
SERAYUNEWS – Memasuki April 2026, rupanya penanggalan Jawa tidak hanya berjalan dalam satu bulan saja, melainkan melintasi dua bulan sekaligus, yakni Sawal dan Selo dalam tahun Jawa 1959.
Peralihan ini menjadi momen penting, terutama bagi masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi dalam menentukan hari baik, weton, hingga pelaksanaan acara adat.
Berdasarkan penanggalan resmi yang dirilis oleh Kementerian Agama, tanggal 1 April 2026 bertepatan dengan 13 Sawal 1959 dalam kalender Jawa dan 13 Syawal 1447 Hijriah.
Bulan Sawal diketahui memiliki jumlah hari sebanyak 29 hari dan berakhir pada 17 April 2026.
Setelah itu, kalender Jawa langsung memasuki bulan Selo pada 18 April 2026 yang dimulai dari tanggal 1 Selo 1959.
Peralihan ini bukan sekadar pergantian angka, melainkan memiliki makna mendalam dalam budaya Jawa.
Banyak masyarakat menggunakan momentum ini untuk mengevaluasi waktu, menentukan hari baik, hingga merencanakan kegiatan penting seperti pernikahan, pindah rumah, atau acara adat lainnya.
Bulan Selo sendiri berlangsung selama 30 hari dan akan berakhir pada 17 Mei 2026.
Dengan demikian, sepanjang April 2026, Anda akan menjalani dua fase kalender Jawa, yaitu:
Daftar Kalender Jawa April 2026 Lengkap dengan Weton
Berikut kalender Jawa April 2026 secara lengkap yang bisa Anda jadikan referensi:
Awal Bulan (Masa Sawal)
Akhir Bulan (Masa Selo)
Dalam tradisi Jawa, weton merupakan gabungan antara hari (Senin–Minggu) dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
Kombinasi ini dipercaya memiliki makna tersendiri yang dapat memengaruhi karakter seseorang hingga menentukan hari baik untuk berbagai kegiatan.
Misalnya, weton seperti Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon kerap dianggap memiliki energi spiritual yang kuat.
Sementara itu, beberapa weton lain sering dipilih untuk hajatan karena diyakini membawa keberuntungan. Tak hanya itu, kalender Jawa juga sering digunakan untuk:
Menariknya, kalender Jawa memiliki keterkaitan erat dengan kalender Hijriah. Hal ini terlihat dari penggunaan bulan seperti Sawal (Syawal) dan Selo (Zulkaidah).
Perpaduan ini merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Islam sejak masa kerajaan Mataram.
Karena itu, kalender Jawa hingga kini tetap relevan digunakan, terutama oleh masyarakat yang ingin menjaga tradisi sekaligus menyesuaikan dengan kalender Islam.***