Selasa, 6 Desember 2022

Kawista, Kolaborasi Desa dan Pertamina Wujudkan Edukasi Pertanian Ramah Lingkungan

Kampung Wisata Pertaian (Kawista) di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap merupakan wisata berbasis pertanian sekaligus tempat belajar pertanian. (Hermiana E.Effendi/Serayunews)

Hamparan hijau tanaman padi serta sejuknya udara sangat terasa saat memasuki Desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Beberapa area pertanian yang masih menyisakan genangan tak menyurutkan para petani untuk tetap turun dan mengolah sawah mereka.


Cilacap, serayunews.com

Suyitno (47), bahkan sudah menyiapkan bibit padi yang sebentar lagi akan dia tanam ketika genangan air surut. Ada 5 varietas padi yang hendak dia tanam di lahan pertanian Kampung Wisata Pertanian (Kawista).

“Begitu air surut, langsung kita tanami padi, karena sekarang memang sudah masuk masa tanam 1,” kata Suyitno.

Kawista merupakan kawasan wisata pertanian yang menyuguhkan berbagai varietas padi, tanaman palawija, tanaman toga dengan balutan pemandangan alam Desa Mernek. Kepala Desa Mernek, Bustanul Arifin menyatakan, tujuan pembangunan wisata ini adalah untuk memberikan edukasi seputar pertanian kepada pengunjung. Dengan memahami potensi pertanian, harapannya mampu menumbuhkan petani-petani milenial yang akan membangkitkan banyak inovasi pertanian.

“Harapan kami, Kawista menjadi sentra edukasi bagi anak-anak, generasi muda, menumbuhkan kecintaan pada profesi petani serta menyiapkan petani milenial. Terus terang saya cukup prihatin, ketika kemarin ada kunjungan dari anak-anak TK dan saat ada pertanyaan tentang cita-citanya, jawaban yang muncul profesi dokter, guru, pilot dan lain-lain. Sama sekali tak ada yang menyebut ingin menjadi petani, padahal mereka berada di tengah area persawahan,” tuturnya.

Kades Mernek, Bustanul Arifin memperlihatkan mesin pengering padi ‘Pinky Rudal’ bantuan dari Pertamina. (Hermiana E.Effendi/Serayunews)
Kolaborasi

Berlandaskan semangat mengajak generasi muda menggeluti bidang pertanian, Bustanul merintis wisata pertanian yang berlokasi di lahan milik desa seluas 1,4 ha dan 0,7 ha dari lahan tersebut untuk pertanian. Untuk mewujudkannya, Bustanul berkolaborasi dengan Pertamina. Desa Mernek sebagai binaan Pertamina mengajukan Bina Lingkungan (BL) dalam pembangunan Kawista. Bantuan tersebut turun dalam bentuk sarana dan prasarana pendukung, berbagai bibit hingga mesin pengering padi dan lainnya. Kawista sudah beroperasi sejak 2020, sempat terdampak pandemi dan sekarang mulai bangkit kembali dengan konsep yang mengalami pembaruan.

Kawista tidak hanya menggeliatkan sektor wisata di desa tersebut, tetapi juga membuka peluang kerja bagi warga desa. Ada 20 petani yang terlibat dalam pengolahan lahan padi, kemudian empat Kelompok Tani Wanita (KWT) juga turut andil dalam memperindah Kawista dengan berbagai macam tanaman bunga, sayuran serta toga. Tak hanya itu, Kawista juga berbalut dengan pemandangan alam nan indah, hamparan area pertanian serta beberapa gazebo dan spot-spot foto yang cantik.

Pertamina juga memberikan bantuan mesin pengering padi ‘Pingky Rudal’ dengan kapasitas 3 ton dan pengoperasiannya menggunakan elpiji. Penggunaan mesin pengering ini pada saat cuaca ekstrem.

Selain konsisten mempertahankan lahan pertanian, Desa Mernek juga merupakan desa yang sangat peduli dan menjaga lingkungan. Kades Mernek mengatakan, sebagian besar lahan pertanian di desa tersebut menggunakan pupuk organik. Para petani selalu diimbau untuk tidak membakar jerami sisa panen, tetapi menyebar jerami tersebut kembali ke lahan.

“Kita selalu mengedukasi para petani supaya mengurangi penggunaan pupuk kimia, jangan membakar jerami dan untuk pola hidup sehari-hari, warga juga sudah terbiasa untuk hemat air dan listrik. Jadi desa kami sudah beradaptasi dan terbiasa menerapkan mitigasi lingkungan. Kita sudah lama menjadi desa binaan Pertamina, sehingga warga desa sudah menyadari pentingnya menanganan perubahan iklim,” jelas Bustanul.

Atas upaya menjaga iklim tersebut, Desa Mernek tahun ini mendapatkan penghargaan Proklim (Program Kampung Iklim) kategori utama.

Komitmen Pertamina

Sementara itu, Area Manager Communication Relation & Corporate Social Responsibility Region Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho mengatakan, program CSR Pertamina menyentuh banyak bidang, termasuk wisata yang berbasis pertanian seperti yang ada di Desa Mernek. Selain di Desa Mernek, Pertamina khususnya di Jawa Tengah dan DIY juga memiliki beberapa program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) desa wisata lainnya, seperti Wisata Konservasi Mangrove Jagapati (SIMANJA) di Kabupaten Cilacap, Desa Wisata dan Edukasi Sambilegi Kidul di Kabupaten Sleman, Desa Wisata Budaya Gamol di Kabupaten Bantul, dan beberapa lokasi lainnya.

“Pendampingan yang kami lakukan di Kawista Desa Mernek mulai dari bantuan sarana prasarana, pelatihan, hingga pendampingan dalam pengelolaan kawasan wisata, dalam hal ini wisata berbasis pertanian,” terangnya.

Area Manager Communication Relation & Corporate Social Responsibility Region Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho. (Hermiana E.Effendi/Serayunews)

Menurut Brasto, Desa Mernek merupakan salah satu kawasan ring 1 Pertamina, dalam hal ini Fuel Terminal Maos, di mana kawasan tersebut dekat dari lokasi operasional Pertamina dan berpotensi terkena dampak dari aktivitas operasional. Karenanya, Pertamina berkomitmen untuk dapat mengembangkan masyarakat yang ada di lingkungan terdekat.

“Kami berharap, Desa Mernek dapat terus konsisten menjalankan kegiatan pengembangan masyarakat yang sudah kami jalankan melalui program TJSL, sehingga masyarakatnya menjadi mandiri. Desa Mernek juga dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya sehingga semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat dan berdikari,” tuturnya.

Investasi Kawista merupakan perpaduan dari tiga sumber, yaitu swadaya masyarakat, pihak desa dan Pertamina. Swadaya masyarakat sangat luar biasa dalam berbagai kegiatan, hal ini karena penguatan kelembagaan di desa tersebut sudah berjalan. Kemandirian masyarakat sedikit demi sedikit sudah terbangun, mereka tak lagi hanya berharap pada bantuan, tetapi juga swadaya, bergotong-royong membangun desa serta aktif terlibat dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Berita Terpopuler

Berita Terkini