
SERAYUNEWS – Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan Suro atau yang bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah sering dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh makna spiritual.
Pada masa ini, sebagian masyarakat masih memegang kepercayaan bahwa berbagai aktivitas besar, termasuk bepergian jauh, sebaiknya dihindari.
Kepercayaan tersebut tidak lepas dari warisan budaya turun-temurun yang berkembang dalam tradisi kejawen.
Bulan Suro sering dipandang sebagai waktu yang “tenang” dan penuh perenungan, sehingga masyarakat dianjurkan untuk mengurangi aktivitas luar rumah yang dianggap berisiko atau kurang baik secara spiritual.
Selain menghindari perjalanan jauh, sebagian masyarakat Jawa juga menjalankan tradisi tirakatan pada malam 1 Suro.
Tirakatan dimaknai sebagai momen untuk berdiam diri, berdoa, dan melakukan introspeksi diri atas perjalanan hidup selama setahun sebelumnya.
Dalam pandangan budaya lokal, masa ini dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki diri, memohon keselamatan, serta menjaga keseimbangan batin. Karena itu, bepergian jauh dianggap dapat mengganggu kekhusyukan proses spiritual tersebut.
Namun, kepercayaan ini lebih bersifat budaya dan tradisi, bukan aturan baku yang bersumber dari ajaran agama tertentu.
Larangan bepergian jauh pada bulan Suro umumnya berasal dari mitos yang berkembang di masyarakat. Ada beberapa alasan yang dipercaya secara turun-temurun, di antaranya:
Pertama, adanya keyakinan bahwa pada malam 1 Suro “pintu gaib terbuka”. Dalam kepercayaan ini, batas antara dunia nyata dan dunia gaib dianggap sangat tipis, sehingga makhluk halus atau arwah leluhur dipercaya lebih mudah berinteraksi dengan manusia.
Kedua, bepergian pada waktu tersebut diyakini bisa mendatangkan kesialan atau musibah. Karena itu, sebagian orang memilih untuk tetap berada di rumah demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketiga, bulan Suro dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menahan diri dan melakukan refleksi batin, sehingga aktivitas luar rumah seperti perjalanan jauh dianggap kurang selaras dengan suasana tersebut.
Meski demikian, semua pandangan ini berkembang sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat, bukan berdasarkan bukti ilmiah.
Dalam ajaran Islam, bulan Muharram justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan. Tidak ada larangan untuk melakukan perjalanan, bekerja, atau aktivitas lainnya di bulan ini, termasuk bepergian jauh.
Bahkan, dalam beberapa hadis disebutkan bahwa puasa di bulan Muharram adalah ibadah yang sangat dianjurkan setelah Ramadan. Ini menunjukkan bahwa bulan Muharram adalah waktu yang penuh keberkahan, bukan bulan yang membawa kesialan.
Islam juga menolak konsep hari atau bulan sial. Keyakinan bahwa waktu tertentu membawa malapetaka dianggap sebagai bentuk thiyarah atau anggapan buruk terhadap waktu, yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid. Dalam pandangan Islam, semua waktu adalah ciptaan Allah dan tidak ada yang membawa kesialan secara mandiri.
Demikian informasi tentang alasan kenapa bulan Suro tidak boleh pergi jauh.***