
SERAYUNEWS-Kericuhan demi kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Liga 4 Jateng. Dua di antara contohnya adalah kericuhan di Blora saat Persikaba Blora menjamu Persibas Banyumas. Kemudian, ericuhan yang mengerikan di Rembang dalam laga PSIR Rembang vs Persak Kebumen. Di Rembang, wasit diburu massa dan dihakimi setelah laga usai. Wasit pun dikeroyok dan terjengkang di lapangan.
Atas fenomena itu, PSSI Jateng mewacanakan format kompetisi yang berubah di Liga 4 Jateng musim depan. Format yang bisa saja digunakan adalah sentralisasi atau home turnamen. Artinya tidak ada pertandingan kandang tandang.
“Evaluasi yang kami lakukan termasuk dalam hal sistem kompetisi yang dijalankan. Jika selama ini kompetisi amatir yang dilaksanakan di Jawa Tengah selalu menggunakan system Home and Away, namun selalu memiliki kelemahan pada aspek penyelenggaraan. Banyak pelanggaran terjadi berawal dari tidak terpenuhinya aspek ini dengan baik, serta pelaksanaan regulasi yang buruk,” kata Plt Ketua PSSI Jateng Ahmad Riyadh seperti dikutip dari website PSSI Jateng.
Karena itu, katanya, PSSI Jateng akan membicarakan menggunakan sistem Centralized atau Home Tournament. Tentu dengan harapan dalam segi pelaksanaan dapat lebih mudah terkontrol. “Tetapi semua akan dimusyawarahkan kepada seluruh klub anggota,” katanya.
Seperti diketahui, selama penyelenggaraan Kompetisi Liga 4 Jawa Tengah tahun 2025/2026 yang digulirkan sejak awal tahun ini, Komite Disiplin PSSI Jawa Tengah telah menerbitkan putusan (lebih dari 90 putusan) bagi Klub maupun Pemain dan Ofisial. “Jadi sesungguhnya kami sangat serius mengawal Regulasi Kompetisi dan Kode Disiplin PSSI dalam penerapannya sebagaimana seharusnya,” katanya.
Jika sistem kompetisi tersentralisasi maka akan seperti Liga Nusantara pada musim 2025-2026 ini. Tidak ada pertandingan kandang tandang dan hanya ada sentralisasi di satu tempat. Jika hal itu terjadi, maka animo penonton dipastikan akan turun, tapi kondusivitas bisa lebih dikendalikan.