
SERAYUNEWS — Pagi itu, deretan sayuran segar tersusun rapi di sebuah papan sederhana. Bukan untuk dijual, melainkan dibagikan. Dari tempat inilah, gerakan “sedekah sayur” tumbuh—pelan tapi pasti—menjadi salah satu inisiatif sosial berbasis pangan yang berdampak luas di Kabupaten Banyumas.
Program yang digagas oleh Yayasan Amal Bunda bersama PT Ethos Kreatif Indonesia ini kini telah menjangkau sekitar 31 ribu penerima manfaat di Banyumas hingga wilayah Cilacap.
Apresiasi terhadap gerakan ini datang dari Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang secara langsung meresmikan papan sedekah sayur ke-40 di Ethos Digital Valley , Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Minggu (26/4/2026).
“Hari ini kami mengunjungi sebuah perusahaan di Purwokerto, yang salah satu kegiatan dari CSR perusahaan tersebut adalah sedekah sayur. Saya terus terang tidak pernah terpikirkan, ada sebuah situasi dimana sayur itu bisa disedekahkan, saya terinspirasi dan penuh bangga terhadap perusahaan sahabat saya ini,” ujar dia.
Chairman PT Ethos, Mukit Hendrayatno, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan filantropi, melainkan bagian dari ekosistem sosial yang dibangun perusahaan.
“Perusahaan tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga pada dampak sosial. Kami membangun ekosistem yang melibatkan petani, peternak, hingga anak muda,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci keberlanjutan program. Sayuran yang dibagikan berasal dari petani lokal, sehingga tidak hanya membantu masyarakat penerima, tetapi juga mendukung ekonomi produsen di tingkat bawah.
Selain sedekah sayur, pihaknya juga mengembangkan berbagai program lain, seperti penguatan fungsi masjid dan inkubasi teknologi berbasis masyarakat.
Di balik skala yang kini besar, program ini berawal dari situasi krisis. Saat pandemi Pandemi COVID-19 melanda, kebutuhan pangan masyarakat meningkat, sementara banyak warga mengalami kesulitan ekonomi.
Ketua Yayasan Rintisan Amal Bunda, Anita Ratna Faoziyah, mengingat bagaimana inisiatif ini lahir dari kepedulian sederhana.
“Awalnya kami hanya menghimpun sayuran untuk warga terdampak pandemi. Tapi setelah pandemi, program ini tidak berhenti. Justru berkembang dan menjangkau lebih banyak orang,” kata dia.
Penyaluran bantuan dilakukan secara rutin setiap akhir pekan, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu. Warga yang membutuhkan dapat mengambil sayuran secara gratis, tanpa syarat yang rumit.
Kini, sedekah sayur bukan lagi sekadar respons darurat, melainkan telah menjelma menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan—menghubungkan kepedulian, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu rantai yang saling menguatkan.