Jumat, 24 September 2021

Kini Puncak Kemarau, Tapi Tiga Hari Cilacap Diguyur Hujan, Ini Penjelasannya

hujan cilacap, cuaca cilacap, musim kemarau, berita terkini, berita hari ini, agustus, cilacap, bmkg cilacap
Kondisi cuaca di Cilacap. (dok istimewa)

Sampai dengan saat ini hujan masih sering turun dengan intensitas tinggi. Tiga hari belakang di awal Agustus, Cilacap terus diguyur hujan. Padahal secara klimatologis, wilayah Cilacap saat ini seharusnya diperkirakan memasuki puncak musim kemarau.


Cilacap, serayunews.com

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan, dari pantauan yang dilakukan, hujan di sekitar Cilacap masih cenderung dengan intensitas ringan hingga sedang. Bahkan hujan tidak hanya turun di Cilacap saja, namun di kabupaten lain dan hampir merata.

“Normalnya memang saat ini puncak musim kemarau, namun hujan masih terus terjadi. Curah hujannya terpantau 9 hingga 15 MM, sejak 1 Agustus sampai hari ini,” katanya kepada serayunews.com, Selasa (3/8/2021).

Setidaknya, kata dia, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perubahan cuaca kali ini, seperti Dipole Mode indek (DMI) yang bernilai negatif 0,76, Dipole Mode merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia, yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) suhu permukaan laut.

Antara pantai timur Afrika dengan pantai barat Sumatera. Perbedaaan nilai anomali suhu permukaan laut tersebut, disebut sebagai Dipole Mode Indeks (DMI). Jika DMI positif umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat. Sedangkan DMI negatif berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat, DMI dianggap normal ketika nilainya + 0,4.

“Nilai DMI -0,76 ini mengakibatkan adanya aliran udara lembap dari Samudera Hindia, sehingga suplai uap air dari wilayah Samudera HIndia ke Wilayah Indonesia bagian barat signifikan, sehingga curah hujan meningkat,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Teguh, adanya anomali suhu permukaan air laut +1° Celcius sampai +3° Celcius di Samudera Hindia selatan Jawa, juga berkontribusi meningkatkan penguapan dan potensi hujan di wilayah Cilacap hingga Jateng dan sekitarnya. Selain itu, adanya Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di Aceh, Jawa dan Papua bagian selatan.

Apalagi dengan adanya Tipe Low atau tekanan rendah yang saat ini aktif di Lampung, Pesisir Utara Jawa dan Kalimantan bagian selatan juga menjadi faktornya. Ditambah lagi adanya kelembaban yang cukup tinggi, sehingga menjadi faktor pendukung terhadap potensi pembentukan awan hujan.

“Hal tersebut yang menimbulkan hujan turun dengan intensitas sedang di beberapa wilayah di Cilacap dan sekitarnya. Dengan mempertimbangkan hal itu, maka diperkirakan dalam dua hari kedepan masih berpotensi terjadi hujan,” jelasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini