
SERAYUNEWS– Banjir bandang yang terjadi di lereng Gunung Slamet Purbalingga meninggalkan peristiwa dramatis. Salah satunya cerita tentang Ustaz Munhasir, guru Madrasah Diniyah (Madin) Miftahul Huda Dusun Gunung Malang Desa Serang Kecamatan Karangreja harus terpisah dengan keluarganya.
Peristiwa tersebut terjadi Sabtu (24/1/2026) dini hari. Banjir bandang menghanyutkan 13 rumah serta membuat puluhan rumah lainnya terendam banjir dan lumpur. Termasuk rumah Munhasir. “Munhasir sempat terpisah dari istri dan anak sejak banjir bandang menerjang. Dia baru dapat bertemu kembali dengan keluarganya sekitar pukul 21.00 WIB, atau hampir 18 jam setelah kejadian. Mereka selamat dan berada di rumah saudara,” kata Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karangreja Abdul Raub yang mendapatkan cerita tersebut dari Munhasir.
Kendati keluarganya selamat, Munhasir masih mengalami trauma dan dilanda kesedihan. Selain karena rumah yang terendam lumpur hingga mendekati atap, satu-satunya lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan keluarga—tanaman bawang dan kentang—ludes tersapu banjir bandang.
“Munhasir tidak memiliki lahan pertanian lain. Ia memiliki dua anak, salah satunya tengah menempuh pendidikan dan mondok di Pondok Pesantren Minhajut Tholabah, Kembangan, Bukateja,” kata Abdul Raub

Abdul Raub juga mengaku takjub sekaligus terharu atas kejadian tersebut. “Sebelah rumah Munhasir hancur, padahal datarannya sama. Potensi rumah Munhasir hanyut dan rusak sangat besar, tetapi kenyataannya hanya terendam lumpur. Ini benar-benar kuasa Allah,” tutur Raub.
Ia menambahkan bahwa Munhasir dan istrinya dikenal sebagai pribadi yang sangat ikhlas,,l dan penuh pengabdian kepada umat. Raub bahkan mengaku menitikkan air mata saat mendengar kisah nyata tersebut.
Abdul Raub juga memastikan bahwa Masjid Baitul Quba Dusun Gunung Malang dalam kondisi aman dan tidak terdampak lumpur, karena posisinya berada di dataran yang lebih tinggi. Masjid tersebut diketahui mampu menampung sekitar 500 hingga 700 jemaah.