
CILACAP, SERAYUNEWS – Peristiwa Bumi Hangus Cilacap pada 1947 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat pasukan Belanda melancarkan agresi militer, para pejuang di Cilacap menghadapi situasi genting hingga mengambil keputusan membumihanguskan sejumlah fasilitas penting.
Sejarawan Cilacap, Thomas Sutasman, menyampaikan peristiwa tersebut merupakan bagian dari rangkaian perlawanan terhadap upaya Belanda kembali menguasai wilayah Indonesia setelah kemerdekaan diproklamasikan.
Menurut Thomas, peristiwa bumi hangus tidak bisa dilepaskan dari kondisi Cilacap yang saat itu memiliki posisi strategis. Pelabuhan Cilacap menjadi salah satu kawasan penting sehingga pertahanan wilayah tersebut menjadi perhatian dalam menghadapi serangan Belanda.
“Bumi hangus itu merupakan bagian dari strategi perjuangan. Tujuannya bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi mencegah fasilitas penting digunakan oleh Belanda setelah mereka menguasai Cilacap,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Berdasarkan catatan sejarah, ketegangan mulai meningkat pada 24 Juli 1947. Aksi perlawanan terjadi di kawasan Benteng Karang Bolong dan Benteng Cimiring, Nusakambangan bagian timur.
Kapal perang Belanda disebut mulai mendekati perairan Pelabuhan Cilacap. Situasi kemudian berkembang menjadi duel artileri antara pasukan pertahanan pantai ALRI/TNI dengan kapal perang Belanda.
Memasuki 26-27 Juli 1947, pertempuran semakin sengit. Belanda mengerahkan pesawat tempur untuk menggempur pertahanan pantai menggunakan bom dan tembakan.
Serangan tersebut membuat posisi pasukan Indonesia semakin terdesak. Sejumlah prajurit TNI yang mempertahankan benteng akhirnya gugur dalam pertempuran.
Thomas menyampaikan, kondisi tersebut menunjukkan besarnya pengorbanan para pejuang Cilacap dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Mereka berada dalam situasi yang sangat sulit karena harus menghadapi kekuatan militer Belanda yang lebih besar. Tetapi perlawanan tetap dilakukan karena mempertahankan kemerdekaan menjadi tujuan utama,” katanya.
Puncak peristiwa terjadi pada 31 Juli 1947. Ketika serangan Belanda semakin kuat dan ancaman pendudukan semakin nyata, pasukan Indonesia mengambil langkah untuk mencegah fasilitas strategis dimanfaatkan pihak penjajah.
Pasukan Penghancur TNI di bawah pimpinan Kapten Moekadji menjalankan strategi bumi hangus. Sejumlah bangunan dan fasilitas penting dibakar maupun diledakkan.
Langkah tersebut dilakukan agar berbagai fasilitas vital tidak dapat digunakan Belanda setelah wilayah Cilacap dikuasai.
Akibat aksi tersebut, sejumlah kawasan di Kota Cilacap berubah menjadi lautan api. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Bumi Hangus Cilacap 1947.
“Bagi masyarakat saat itu, membumihanguskan kota tentu bukan keputusan yang mudah. Ada pengorbanan harta benda dan lingkungan tempat mereka hidup. Tetapi langkah itu diambil agar musuh tidak mendapatkan fasilitas dalam kondisi utuh,” ungkapnya.
Setelah melalui pertempuran selama beberapa hari, Belanda akhirnya berhasil menguasai Kota Cilacap yang sudah menjadi puing-puing kosong pada 2 Agustus 1947.
Meski secara militer wilayah kota berada di bawah penguasaan Belanda, peristiwa bumi hangus meninggalkan pesan mengenai kegigihan para pejuang dan masyarakat Cilacap.
Thomas menilai sejarah tersebut penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda. Sebab, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi melalui pertempuran dengan senjata, tetapi juga melalui berbagai keputusan sulit yang harus diambil dalam kondisi terdesak.
“Yang perlu diwariskan bukan hanya cerita tentang kotanya yang dibakar, tetapi nilai perjuangannya. Ada keberanian, pengorbanan, dan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan,” ungkapnya.
Peristiwa Bumi Hangus Cilacap 1947 menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan dengan pengorbanan besar. Gugurnya para pejuang, pertempuran di kawasan pertahanan pantai hingga penghancuran fasilitas penting menjadi bagian dari sejarah Cilacap yang tidak terpisahkan dari perjalanan mempertahankan kemerdekaan.
Kini, kisah tersebut menjadi warisan sejarah bagi masyarakat Cilacap. Jejak perjuangan para pendahulu diharapkan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya tentang arti pengorbanan dalam mempertahankan kemerdekaan.