
SERAYUNEWS-Komunitas Patanjala Purbalingga kembali menggelar konservasi mata air berbasis kearifan lokal. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Desa Talagening Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.
Juru bicara Komunitas Patanjala, Indaru Setjo Nurprojo, Senin (5/1/2026) mengatakan antara lekuk perbukitan yang membentang membatasi dua wilayah peradaban budaya besar—Kalingga di utara dan Galuh di selatan—terdapat sebuah penanda alam yang bisu namun penuh makna: Watu Sanggar. Batu besar ini tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga saksi bisu pertemuan dua peradaban budaya yang sejak berabad-abad telah membangun hubungan harmonis dengan air dan alam. “Di sinilah, di Desa Talagening, Kecamatan Bobotsari, sejarah dan ekologi bertaut dalam sebuah narasi yang hampir terlupakan,” ujarnya.
Komunitas Patanjala dengan penuh sukacita mengajak kita semua untuk kembali bertemu, bersinergi, dan memberi aksi nyata untuk bumi pertiwi. “Mari kita rawat bersama salah satu pusaka kehidupan yaitu mata air. Kali ini, kita akan menyelami dan merawat Mata Air di Lembah Watu Sanggar Desa Talagening, Bobotsari, dengan pendekatan yang menyatu antara aksi menanam pohon, ritus dan pengobatan gratis,” paparnya.
Kegiatan dilaksanakan Minggu, 11 Januari 2026 mulai pukul 08.00 WIB. Titik Kumpul: Balai Desa Talagening, Bobotsari. Lokasi Aksi: Mata Air Lembah Watu Sanggar Desa Talagening. “Kita percaya, merawat mata air bukan hanya soal ekologi, tapi juga cara kita merawat ingatan dan identitas budaya sebagai masyarakat yang bersahabat dengan alam,” ujarnya.
Sebelumnya Komunitas Patanjala juga telah melakukan konservasi mata air berbasis budaya di Desa Grantung Kecamatan Karangmoncol pada Minggu (14/12/2025). Kegiatan itu dilaksanakan bersama Kapolres Purbalingga AKBP Achmad Akbar. Sebelumnya kegiatan serupa juga dilakukan di Desa Tanalum Kecamatan Rembang, Minggu (7/12/2025) dan Desa Ponjen Kecamatan Karanganyar pada Minggu (27/2/2025).