
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Gunung Krakatau di Selat Sunda memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik dan beberapa kali mengalami letusan besar. Dari rangkaian sejarah tersebut, erupsi Krakatau 1883 menjadi salah satu peristiwa paling dahsyat karena menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan memicu tsunami yang menewaskan sekitar 36.000 orang.
Kawasan Krakatau berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Sejarah geologinya bahkan telah berlangsung jauh sebelum bencana besar pada 1883.
Badan Geologi mencatat kompleks Krakatau terbentuk melalui beberapa fase aktivitas vulkanik. Kajian geologi juga mencatat adanya letusan besar sekitar abad ke-5 yang menghasilkan kaldera sebelum terbentuknya kompleks gunung api yang kemudian dikenal sebagai Krakatau.
Sebelum letusan besar 1883, kawasan Krakatau telah mengalami sejumlah fase pembentukan dan penghancuran gunung api.
Salah satu catatan yang dihimpun Badan Geologi menyebut adanya aktivitas letusan Krakatau pada 416 M, sementara kajian lain mengaitkan pembentukan kaldera purba dengan peristiwa pada sekitar abad ke-5. Karena itu, penanggalan letusan purba Krakatau masih menjadi bagian dari kajian geologi dan sejarah.
Aktivitas vulkanik kemudian membentuk beberapa kerucut gunung api, termasuk Rakata, Danan, dan Perbuwatan.
Sebelum 1883, Gunung Perbuwatan tercatat mengalami letusan pada 1680. Setelah itu, Krakatau relatif tenang selama sekitar dua abad hingga aktivitas vulkanik kembali meningkat menjelang letusan besar 1883.
Aktivitas vulkanik Krakatau kembali meningkat pada Mei 1883. Letusan kemudian berkembang menjadi rangkaian erupsi besar yang mencapai puncaknya pada 26–28 Agustus 1883.
Badan Geologi mencatat erupsi tersebut menghancurkan kerucut Perbuwatan dan Danan serta sebagian tubuh Rakata. Runtuhan tersebut membentuk kaldera bawah laut di kawasan Selat Sunda.
Besarnya letusan juga menghasilkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar serta aliran dan surge piroklastik yang mencapai wilayah sekitar Selat Sunda.
Namun, tsunami menjadi penyebab utama jatuhnya korban jiwa dalam bencana Krakatau 1883.
Katalog Tsunami Indonesia yang diterbitkan BMKG mencatat peristiwa tersebut menyebabkan permukiman di sekitar Selat Sunda tersapu gelombang dan sekitar 36.000 orang meninggal dunia.
Badan Geologi mencatat angka korban mencapai 36.417 orang. Tsunami menerjang wilayah pesisir Jawa dan Sumatra di sekitar Selat Sunda.
Besarnya dampak tersebut membuat erupsi Krakatau 1883 menjadi salah satu letusan gunung api paling mematikan dalam sejarah modern.
Meski tubuh Krakatau mengalami kehancuran besar, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut tidak berhenti.
Sekitar 44 tahun setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik kembali muncul di pusat kaldera. Pada 1927, terjadi letusan bawah laut yang kemudian berkembang menjadi gunung api baru.
Material vulkanik terus menumpuk hingga akhirnya Anak Krakatau muncul ke permukaan laut pada 1929. Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi pascapembentukan Anak Krakatau dimulai sejak 1927 ketika tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan dan erupsi berulang. Kajian Badan Geologi menyebut gunung api tersebut berada dalam fase konstruksi, yakni terus membangun tubuh gunung melalui aktivitas vulkanik.
Sejarah Krakatau kembali menjadi perhatian dunia pada 22 Desember 2018.
Saat itu, aktivitas erupsi Anak Krakatau diikuti runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut. Material longsoran tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.
Badan Geologi menjelaskan bahwa tsunami 2018 berkaitan dengan aktivitas vulkanik Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh gunung ke laut. Peristiwa tersebut berbeda dengan tsunami akibat gempa tektonik yang umum terjadi di Indonesia.
Bencana tersebut kembali mengingatkan bahwa ancaman Krakatau bukan hanya berasal dari letusan dan abu vulkanik. Runtuhan tubuh gunung api ke laut juga dapat memicu tsunami.
Jika dibandingkan berdasarkan skala letusan, kehancuran, dan jumlah korban jiwa, erupsi Krakatau 1883 jauh lebih dahsyat.
Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau, membentuk kaldera dan memicu tsunami besar yang menewaskan sekitar 36.000 hingga 36.417 orang.
Sementara itu, peristiwa 2018 merupakan salah satu bencana paling penting dalam sejarah modern Anak Krakatau. Runtuhan sebagian tubuh gunung ke laut memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung.
Dengan demikian, 1883 merupakan erupsi Krakatau paling dahsyat berdasarkan skala kehancuran dan korban jiwa, sedangkan 2018 menjadi peristiwa penting yang menunjukkan kembali potensi tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau.
Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau belum berakhir.
Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda dan hingga kini terus dipantau. Badan Geologi juga mencatat erupsi 1883 sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah kompleks Krakatau.
Karena itu, aktivitas Anak Krakatau tidak hanya menjadi perhatian dari sisi vulkanologi, tetapi juga berkaitan dengan potensi bahaya abu vulkanik, letusan, runtuhan material gunung api, hingga tsunami.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda perlu mengikuti perkembangan aktivitas Anak Krakatau melalui informasi resmi Badan Geologi/PVMBG dan instansi terkait. (Shafira)