
SERAYUNEWS – Peristiwa meninggalnya satu keluarga saat menjalani kegiatan glamping di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengejutkan banyak pihak.
Keluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, ditemukan meninggal dunia di dalam tenda penginapan kawasan wisata Posong.
Tragedi tersebut memunculkan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat penting tentang keselamatan saat beraktivitas di ruang tertutup, terutama ketika menggunakan alat masak berbahan bakar gas.
Polisi menduga keempat korban meninggal akibat paparan gas karbon monoksida (CO).
Dugaan itu mengarah pada penggunaan gas portable saat memasak dan aktivitas barbeque yang dilakukan di area tenda sebelum keluarga tersebut beristirahat.
Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, menyebut penyidik menemukan gas portable di lokasi yang diduga dipakai korban.
Dugaan sementara, gas karbon monoksida muncul dari alat tersebut maupun dari proses pembakaran ketika barbeque dilakukan.
Peristiwa ini kini masih didalami aparat kepolisian, termasuk kemungkinan adanya unsur kelalaian dari pengelola tempat wisata.
– Datang pada Malam Hari
Tragedi bermula pada Selasa, 26 Mei 2026 sekitar pukul 21.05 WIB. Satu keluarga asal Ambarawa tiba di kawasan glamping objek wisata Posong, Kabupaten Temanggung.
Keluarga tersebut terdiri dari ayah bernama Muhamad Ali Munawar (52), ibu Maghfirah (43), anak sulung Bagas Amar Hakiki (21), serta anak bungsu mereka Alvino Evan Hakim (16).
Setibanya di lokasi, mereka menempati tenda nomor 3 untuk bermalam.
Glamping atau glamorous camping sendiri menjadi pilihan wisata populer karena menawarkan pengalaman berkemah dengan fasilitas lebih nyaman dibanding camping biasa.
Umumnya, pengunjung menikmati suasana alam dengan tambahan fasilitas seperti tempat tidur, perlengkapan memasak, hingga area barbeque.
Namun, penggunaan alat pemanas atau kompor berbahan bakar di ruang tertutup tetap membutuhkan perhatian ekstra, terutama terkait ventilasi udara.
– Tidak Merespons Sejak Pagi
Keesokan harinya, Rabu, 27 Mei 2026 sekitar pukul 09.00 WIB, petugas glamping datang untuk mengantarkan makanan ke tenda korban.
Saat itu, petugas tidak memperoleh respons dari penghuni tenda. Situasi tersebut awalnya belum menimbulkan kecurigaan karena petugas menduga penghuni masih beristirahat.
Namun, hingga menjelang waktu check out, tidak ada aktivitas yang terlihat dari tenda tersebut.
Sekitar pukul 11.30 WIB, petugas kembali mendatangi tenda untuk membersihkan area sekaligus menyapa dari luar.
Meski sudah beberapa kali dipanggil, tetap tidak ada jawaban dari dalam.
Kondisi itu membuat petugas mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Kronologi Satu Keluarga Meninggal di Temanggung saat Glamping: Ditemukan Meninggal di Dalam Tenda
Situasi berubah menjadi tragedi pada pukul 15.45 WIB. Karena sejak pagi tidak ada respons sama sekali, petugas akhirnya membuka tenda glamping nomor 3 tersebut.
Saat pintu tenda dibuka, petugas mendapati empat anggota keluarga berada di dalam dalam kondisi meninggal dunia.
Penemuan itu langsung dilaporkan kepada aparat kepolisian. Polisi kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus mengumpulkan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan penyebab kematian korban.
Jenazah para korban kemudian diautopsi untuk memastikan penyebab kematian secara medis.
Kronologi Satu Keluarga Meninggal di Temanggung saat Glamping: Dugaan Paparan Gas Karbon Monoksida
Hingga kini, dugaan kuat penyebab meninggalnya satu keluarga tersebut mengarah pada paparan gas karbon monoksida (CO).
Gas karbon monoksida dikenal berbahaya karena tidak memiliki warna, bau, maupun rasa sehingga sulit dideteksi tanpa alat khusus.
Dalam kondisi tertentu, paparan CO di ruang minim ventilasi dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, memicu pusing, mual, kehilangan kesadaran, hingga berakibat fatal.
Dugaan polisi menguat setelah ditemukan gas portable di lokasi serta adanya aktivitas barbeque sebelum korban tidur.
Menurut penyidik, kemungkinan gas berasal dari dua sumber, yakni alat gas portable maupun sisa pembakaran barbeque yang masih menghasilkan paparan di ruang tertutup.
Kondisi tenda yang disebut tertutup setelah aktivitas memasak menjadi salah satu aspek yang kini ikut diperiksa dalam penyelidikan.
– Jenazah Dimakamkan di Banyubiru
Pada Jumat, 29 Mei 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, empat jenazah tiba di Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Setelah tiba, keluarga dan warga sekitar mengantar proses pemakaman para korban. Suasana duka menyelimuti lingkungan tempat tinggal keluarga tersebut.
Sementara itu, kepolisian terus melakukan pendalaman atas kasus ini.
Pengelola glamping juga telah dimintai keterangan guna memastikan ada atau tidaknya unsur kelalaian terkait sistem keamanan dan fasilitas di lokasi wisata.***