
SERAYUNEWS- Fenomena balas tidur selama Ramadan kerap menjadi pilihan sebagian orang untuk menghindari rasa lapar dan haus.
Tak sedikit yang memilih menghabiskan waktu dari pagi hingga menjelang berbuka dengan terlelap hampir seharian penuh.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting di tengah masyarakat: apakah tidur seharian membatalkan puasa? Atau justru tetap sah namun berdampak kurang baik bagi kesehatan tubuh?
Di sisi lain, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa pola tidur yang tidak teratur selama puasa bisa memengaruhi metabolisme, hormon, hingga produktivitas harian.
Lalu bagaimana sebenarnya pandangan medis dan dalil Alquran terkait hal ini? Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Secara fikih, tidur tidak termasuk hal yang membatalkan puasa. Selama seseorang tidak makan, minum, atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, maka puasanya tetap sah.
Dalam kajian yang dimuat, dijelaskan bahwa tidur sepanjang hari tidak otomatis membatalkan puasa. Namun, para ulama mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga mengisi waktu dengan ibadah dan aktivitas bermanfaat.
Artinya, secara hukum ibadah puasa tetap sah, tetapi kualitasnya bisa berkurang jika seseorang menghabiskan hampir seluruh waktu hanya untuk tidur tanpa aktivitas produktif.
Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Karena itu, tidur berlebihan hingga menghilangkan kesempatan beribadah dan berbuat kebaikan dinilai kurang sejalan dengan esensi puasa itu sendiri.
Dari sisi medis, tidur memang penting untuk pemulihan tubuh. Namun, tidur berlebihan atau hypersomnia dapat memicu gangguan ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Para ahli kesehatan menjelaskan, saat seseorang tidur terlalu lama di siang hari, tubuh bisa mengalami:
1. Penurunan metabolisme
2. Pusing atau sakit kepala saat bangun
3. Gangguan kualitas tidur malam
4. Rasa lemas berkepanjangan
5. Penurunan konsentrasi
Tubuh manusia dirancang untuk aktif pada siang hari dan beristirahat di malam hari. Jika pola ini dibalik selama Ramadan, maka tubuh perlu beradaptasi ekstra, yang bisa berdampak pada stamina dan produktivitas.
Sebagian orang memilih tidur untuk menghemat energi dan mengurangi rasa lapar. Secara psikologis, tidur memang bisa mengalihkan rasa lapar sementara karena tubuh dalam kondisi tidak sadar.
Namun secara fisiologis, metabolisme tetap berjalan. Tubuh tetap menggunakan cadangan energi meskipun sedang tidur. Bahkan jika pola makan sahur dan berbuka tidak seimbang, tidur berlebihan bisa membuat tubuh semakin lemas.
Karena itu, para ahli menyarankan tetap menjaga aktivitas ringan seperti membaca, bekerja, atau berolahraga ringan menjelang berbuka agar tubuh tetap bugar.
Tidur hampir sepanjang hari juga berisiko menurunkan produktivitas, terutama bagi pekerja dan pelajar. Aktivitas yang tertunda dapat menumpuk dan memicu stres setelah Ramadan.
Selain itu, puasa sejatinya melatih kedisiplinan waktu dan pengendalian diri. Jika seluruh waktu dihabiskan untuk tidur, maka kesempatan memperbanyak ibadah seperti membaca Alquran, berdzikir, atau membantu sesama menjadi berkurang.
Agar tetap bugar selama Ramadan tanpa harus tidur seharian, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
1. Tidur lebih awal agar cukup istirahat sebelum sahur
2. Batasi tidur siang maksimal 20–30 menit (power nap)
3. Konsumsi makanan bergizi seimbang saat sahur dan berbuka
4. Perbanyak minum air putih saat malam hari
5. Hindari begadang tanpa keperluan penting
Dengan pola tidur yang teratur, tubuh akan lebih mudah beradaptasi dan tetap berenergi meski berpuasa.
Sejumlah ulama menegaskan bahwa tidur memang tidak membatalkan puasa, tetapi puasa yang ideal adalah yang diisi dengan amal saleh. Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan.
Keseimbangan antara istirahat dan aktivitas menjadi kunci agar ibadah tetap sah sekaligus bernilai maksimal.
Tidur seharian saat puasa memang tidak membatalkan ibadah secara hukum. Namun dari sisi kesehatan dan kualitas spiritual, kebiasaan tersebut tidak dianjurkan jika dilakukan berlebihan.
Menjaga pola tidur yang seimbang membantu tubuh tetap sehat dan puasa lebih bermakna. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga momentum meningkatkan ketakwaan dan produktivitas diri.