
SERAYUNEWS– “Ngrajang mbako niku kudu bombong, ati rakena lagi gela. Nek ora bombong karo gela, rajangan mbakone rusak, rasane juga ra enak,” kata Saryono (65) warga Grumbul Jeruklegi Desa Kertosari Kecamatan Kalibening Banjarnegara, Sabtu (19/8/2023).
Maksud dari kalimat tersebut adalah saat mengiris daun tembako, suasana hati harus bagus gembira dan tidak boleh dalam kondisi marah. Supaya cita rasa tembakaunya tidak rusak.
Tembakau Jeruklegi, kata dia, proses produksinya hanya pada saat musim kemarau. Karena tembakau tersebut, sangat mengandalkan cahaya panas matahari. Saryono menjadi petani tembakau, sudah turun temurun dan masih bertahan hingga saat ini.
“Saya menjadi pengrajin tembakau, karena di ajari oleh orangtua dulu. Caranya masih saya lakukan sesuai ajaran, sehingga rasa Mbako Jeruklegi tetap terjaga,” katanya.
Produksi tembakau sangat terbatas dan tidak pernah dia jual ke pasar, untuk mencukupi permintaan warga sekitar. Sebab, kata dia, dia hanya menanam 600 batang tembakau, sehingga jumlah produksi tidak mungkin bisa banyak.
“Jika saya sudah mulai ngrajang, warga kampung sudah mulai memesan. Untuk Tembakau Jeruklegi yang sudah siap, jualnya perkotak ukuran 30 cm x 40 cm seharga Rp 50 ribu,” katanya.
Untuk daun tembakau, kata Saryono, kelasnya di bedakan dengan cara dari mana daun itu di ambil. Daun yang atas, tengah dan bawah, harus di pisah. Setelah petik, daun kemudian di diamkan di tanah dengan alas bambu serta tidak kena sinar matahari secara langsung.
“Saat ngrajang atau pemotongan, daun di campur untuk perajangan. Jika salah saat menyatukan daunnya, serta kondisi hati sedang tidak baik, mutu mbako pasti rusak. Jadi harus bahagia dan sabar,” katanya.
Kepala Desa Kertosari, Agung Wicaksono mengatakan, di desanya hanya ada dua orang yang menjadi petani dan pengrajin tembakau. Namun, karena jumlah tanamannya sedikit sehingga hasil produksinya juga terbatas.
“Memang sudah banyak yang menanam Tembakau Jeruklegi, tapi produksi saat musim kemarau saja. Jenisnya Tembakau Amprak dan sangat spesial,” katanya.