
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Desa Onje yang terletak di Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menyimpan kekayaan sejarah dan spiritualitas Islam Nusantara yang unik.
Desa ini dikenal luas sebagai pusat komunitas masyarakat Islam Aboge (Alif Rebo Wage), sebuah kelompok tradisi keagamaan yang memadukan ajaran Islam dengan penanggalan Hisab Urfi serta kearifan lokal berakar budaya Jawa.
Jejak peradaban Islam di Desa Onje tak lepas dari peran figur ulama berpengaruh, yaitu Syaikh Samsudin atau yang lebih dikenal dengan julukan Raden Sayyid Kuning. Beliau diyakini sebagai salah satu tokoh ulama yang menyebarkan syiar Islam di wilayah Purbalingga dan sekitarnya, serta memiliki keterkaitan erat dengan era jaringan ulama Wali Sanga.
Bukti otentik sejarah ini berdiri kokoh dalam bentuk Masjid Raden Sayyid Kuning. Berfungsi sebagai pusat peribadatan dan cagar budaya bersejarah, masjid ini menjadi simbol pengikat spiritualitas serta pusat berbagai kegiatan keagamaan masyarakat adat Aboge hingga saat ini.
Keunikan utama masyarakat Islam Aboge terletak pada penetapan hari-hari besar Islam, seperti awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, hingga Muludan menggunakan penanggalan berbasis Hisab Urfi. Rumus perhitungan ini menetapkan tahun Alif jatuh pada hari Rabu (Rebo) Wage, yang menjadi dasar penamaan “Aboge”.
Tata cara perhitungan dan pemahaman penanggalan ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan di lingkungan keluarga sesepuh Aboge.
Bagi generasi muda atau warga yang ingin mendalami ilmunya, pembelajaran dilakukan secara mandiri dan personal dengan mendatangi langsung para sesepuh adat.
Spiritualitas warga Aboge Onje terefleksi dalam rangkaian ritual sakral yang kaya nilai simbolis:
1. Siraman Hajatan di Jojok Telu: Ritual penyucian diri yang memanfaatkan pertemuan aliran tiga sungai. Dipadukan dengan kembang tujuh rupa dan doa keselamatan, prosesi ini diawali tabur bunga di Batu Dakon untuk memohon keberkahan.
2. Ziarah Sadranan: Tradisi Nyadran atau ziarah ke makam Raden Sayyid Kuning sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pengingat akan kematian.
3. Upacara Kepanggihan: Adat pernikahan tradisional yang memadukan perhitungan weton calon pengantin dengan sembilan tahapan ritual adat demi menjaga keharmonisan rumah tangga.
Kehidupan religius masyarakat Aboge dipenuhi ritme ibadah yang rutin dan perayaan tradisi:
1. Peringatan Suroan: Menyambut 1 Muharam dengan gelaran shalat syukur dan pertunjukan budaya wayang kulit.
2. Yasinan, Dibaan, dan Kataman: Tradisi pembacaan surat Yasin, tahlil, pembacaan kitab Dibaa’ di Masjid Raden Sayyid Kuning, serta amalan Kataman Al-Qur’an 30 juz yang rutin digelar setiap Selasa dan Jumat setelah shalat Dzuhur.
3. Muludan dan Tarekat Naqshabandiyah: Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap 12 Rabi’ul Awal yang diisi pengajian umum. Menariknya, tradisi Kataman Aboge di Desa Onje juga menjalin hubungan spiritual dengan Tarekat Naqshabandiyah (yang berpusat di Lamongan) yang berkala mengirim utusannya untuk beribadah bersama.
Masyarakat Islam Aboge di Desa Onje membuktikan bahwa kearifan lokal dan syariat mampu berjalan berdampingan, menjaga warisan tradisi leluhur sekaligus merawat keharmonisan sosial warga Purbalingga.