
SERAYUNEWS – Mengapa campak masih mewabah meski sudah ada vaksin? Pasalnya, campak adalah salah satu penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin.
Namun, hingga saat ini penyakit tersebut masih ditemukan di berbagai negara, bahkan sesekali memicu wabah.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa campak masih menyebar meski vaksin sudah tersedia selama puluhan tahun?
Mengutip laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 28 November 2025, campak tetap menjadi ancaman kesehatan global karena masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Ketika cakupan vaksinasi tidak merata, virus campak dapat dengan mudah menyebar di masyarakat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyoroti masalah serupa.
Ketimpangan cakupan imunisasi di sejumlah wilayah membuat risiko penularan campak tetap tinggi.
Oleh karena itu, peningkatan cakupan imunisasi menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit ini.
Berikut penjelasan lengkap mengenai mengapa campak masih muncul, serta mitos dan fakta yang sering beredar di masyarakat tentang vaksin.
Meski vaksin campak telah digunakan selama puluhan tahun, masih banyak anak di dunia yang belum mendapat perlindungan imunisasi secara memadai.
Berdasarkan data WHO dan UNICEF, sekitar 30 juta bayi pada 2024 belum mendapatkan imunisasi campak secara cukup.
Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan besar dalam program vaksinasi global. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi antara lain:
Ketika cakupan vaksinasi rendah, virus campak lebih mudah menyebar dan memicu wabah.
Campak adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, terutama hidung, tenggorokan, dan paru-paru.
Virus ini sangat menular dan dapat menyebar melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau bahkan bernapas.
Gejala campak biasanya muncul sekitar 10–12 hari setelah terinfeksi. Beberapa tanda awal yang sering muncul meliputi:
Setelah itu muncul ruam merah yang biasanya dimulai dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Jika tidak ditangani dengan baik, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti:
Yang membuat penyakit ini berbahaya adalah kemampuannya bertahan di udara.
Virus campak dapat tetap berada di udara hingga beberapa jam setelah penderita meninggalkan ruangan.
Artinya, seseorang dapat tertular hanya dengan berada di ruangan yang sama dengan penderita sebelumnya.
Meski vaksin tersedia, beberapa faktor membuat wabah campak masih dapat terjadi.
1. Munculnya Gerakan Anti-Vaksin
Salah satu penyebab utama penurunan imunisasi adalah meningkatnya kepercayaan anti-vaksin di sebagian masyarakat.
Kelompok ini percaya bahwa vaksin tidak memberikan manfaat atau bahkan membahayakan kesehatan.
Padahal, berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa vaksin merupakan salah satu cara paling efektif mencegah penyakit menular.
Vaksin juga telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun di seluruh dunia.
Keengganan sebagian orang tua untuk memberikan vaksin kepada anaknya dapat membuka celah penyebaran virus campak di komunitas.
Padahal, ketika banyak orang tidak divaksinasi, perlindungan komunitas atau herd immunity menjadi lemah.
2. Dampak Pandemi COVID-19
Pandemi COVID-19 juga memberi dampak besar terhadap program imunisasi di berbagai negara.
Selama masa pandemi, banyak layanan kesehatan yang terganggu, termasuk program vaksinasi anak.
Hal ini menyebabkan banyak anak melewatkan jadwal imunisasi mereka.
Selain itu, kondisi ekonomi yang memburuk di beberapa wilayah juga meningkatkan risiko malnutrisi pada anak.
Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat anak lebih rentan terhadap infeksi, termasuk campak.
Akibatnya, muncul celah besar yang memungkinkan virus campak kembali menyebar.
Seiring meningkatnya informasi di internet, berbagai mitos tentang campak dan vaksin juga ikut menyebar. Berikut beberapa mitos yang sering muncul beserta faktanya.
Mitos: Campak bukan penyakit serius
Fakta: Campak adalah penyakit pernapasan yang sangat menular dan bisa menyebabkan komplikasi berat.
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia, ensefalitis (pembengkakan otak), hingga kematian.
Risiko ini lebih tinggi pada anak di bawah 5 tahun, orang dewasa di atas 20 tahun, ibu hamil, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Mitos: Campak hanya menyebar melalui kontak langsung
Fakta: Virus campak dapat menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin.
Virus ini bahkan dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah penderita meninggalkan suatu area. Inilah yang membuat campak sangat mudah menular.
Mitos: Campak sudah jarang terjadi
Fakta: Campak masih ditemukan di banyak negara.
Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), dari 1 Januari hingga 1 Juli 2025 terdapat 1.267 kasus campak yang dikonfirmasi di 38 negara bagian di Amerika Serikat.
Kasus ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi ancaman global.
Mitos: Campak hanya berupa ruam kulit
Fakta: Ruam hanyalah salah satu gejala campak.
Penyakit ini biasanya diawali dengan demam, batuk, pilek, serta mata merah. Setelah itu muncul ruam yang menyebar dari kepala hingga kaki.
Penderita campak juga dapat menularkan virus empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul.
Mitos: Campak hanya menyerang anak-anak
Fakta: Campak dapat menyerang siapa saja dari segala usia.
Sekitar 90 persen orang yang tidak memiliki kekebalan akan tertular jika terpapar virus campak. Data juga menunjukkan:
Mitos: Vaksin tidak diperlukan
Fakta: Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah campak.
Vaksin yang digunakan adalah vaksin MMR (measles, mumps, rubella) atau MMRV yang juga mencakup vaksin cacar air.
Untuk menghentikan penyebaran campak di masyarakat, setidaknya 95 persen populasi perlu mendapatkan imunisasiagar tercapai kekebalan kelompok.
Vaksin bukan hanya melindungi individu yang divaksinasi, tetapi juga melindungi orang di sekitarnya.
Ketika sebagian besar masyarakat sudah divaksin, virus akan kesulitan menyebar. Inilah yang disebut herd immunity.
Sebaliknya, jika banyak orang tidak divaksinasi, virus dapat dengan mudah menyebar kembali dan memicu wabah.
Karena itu, memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan jangka panjang.***