
SERAYUNEWS – Kasus wabah hantavirus kembali menjadi sorotan internasional setelah dilaporkan terjadi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik.
Berdasarkan laporan World Health Organization, sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan infeksi virus tersebut.
Selain korban meninggal, satu kasus telah terkonfirmasi positif hantavirus, sementara lima kasus lainnya masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut.
Pihak WHO menyatakan bahwa proses investigasi masih berlangsung, termasuk pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti infeksi.
Kapal tersebut diketahui sedang melakukan perjalanan dari Argentina menuju Tanjung Verde ketika kasus mulai terdeteksi.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran global, mengingat hantavirus termasuk penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Hantavirus bukanlah penyakit yang sepenuhnya asing di Indonesia. Berdasarkan data yang tercatat pada pertengahan Juni 2025, terdapat delapan kasus hantavirus yang dilaporkan dalam kurun waktu satu minggu.
Kasus tersebut tersebar di beberapa wilayah, antara lain Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.
Meski jumlahnya relatif kecil, temuan ini menunjukkan bahwa virus tersebut memang sudah ada di Indonesia, meskipun tidak tergolong sebagai wabah besar.
Para ahli kesehatan menilai bahwa risiko penyebaran hantavirus di Indonesia tetap perlu diwaspadai, terutama di daerah dengan populasi hewan pengerat yang tinggi. Lingkungan yang kurang bersih dan minim sanitasi dapat meningkatkan potensi penularan.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus. Virus ini dapat menular ke manusia melalui partikel udara yang terkontaminasi, terutama dari kotoran, urin, atau air liur hewan pengerat yang telah mengering.
Saat partikel tersebut terhirup, virus dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan infeksi. Dalam beberapa kasus, hantavirus dapat menimbulkan penyakit serius seperti gangguan pernapasan atau sindrom ginjal.
Selain melalui udara, penularan juga bisa terjadi meski jarang, seperti melalui gigitan atau cakaran hewan pengerat. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran virus ini.
Penularan hantavirus umumnya terjadi melalui udara yang mengandung partikel virus dari kotoran atau urin hewan pengerat.
Aktivitas seperti membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang jarang dibersihkan bisa meningkatkan risiko terpapar.
Gejala awal infeksi hantavirus biasanya menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.
Namun, dalam kondisi tertentu, gejala dapat berkembang menjadi lebih serius, seperti gangguan pernapasan hingga penurunan fungsi ginjal.
Karena gejalanya mirip penyakit umum, hantavirus sering kali sulit dideteksi sejak awal. Oleh sebab itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala setelah terpapar lingkungan berisiko.
Untuk mengurangi risiko penularan hantavirus, menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah utama. Masyarakat disarankan untuk rutin membersihkan area rumah, terutama tempat yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Selain itu, penggunaan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang kotor juga sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan untuk mencegah partikel virus masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan.
Pengendalian populasi hewan pengerat juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Menutup celah masuk tikus serta menjaga kebersihan makanan dapat membantu mengurangi risiko kehadiran hewan tersebut di lingkungan rumah.
Dengan memahami cara penularan, gejala, serta langkah pencegahannya, masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi potensi risiko infeksi. Kewaspadaan dan pola hidup bersih menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran hantavirus.***