
SERAYUNEWS – Perayaan Hari Valentine setiap 14 Februari identik dengan momen berbagi kasih sayang.
Tidak hanya ditujukan kepada pasangan, perayaan ini juga sering dimanfaatkan untuk menunjukkan perhatian kepada sahabat, keluarga, bahkan diri sendiri.
Salah satu tradisi yang hampir selalu hadir dalam perayaan tersebut adalah kebiasaan bertukar hadiah.
Beragam hadiah biasanya diberikan pada Hari Valentine, mulai dari bunga, boneka, perhiasan, hingga makan malam romantis.
Namun, di antara berbagai pilihan tersebut, cokelat tetap menjadi hadiah yang paling populer.
Banyak orang memilih cokelat karena dianggap mampu mewakili rasa manis dalam hubungan dan menjadi simbol perhatian sederhana tetapi bermakna.
Fenomena ini ternyata tidak muncul begitu saja. Ada perjalanan sejarah panjang, pengaruh budaya, serta faktor ilmiah yang membuat cokelat menjadi hadiah yang sulit dipisahkan dari perayaan Hari Valentine.
Sejarah Panjang Cokelat sebagai Simbol Romantis
Cokelat sebenarnya sudah dikenal sebagai bahan makanan bernilai tinggi sejak ribuan tahun lalu.
Dalam peradaban kuno seperti suku Maya dan Aztek, biji kakao dipandang sebagai komoditas berharga yang bahkan digunakan sebagai alat tukar.
Menurut catatan yang dimuat oleh Smithsonian Magazine, cokelat mulai memiliki hubungan erat dengan Hari Valentine pada abad ke-19, tepatnya pada era Victoria.
Pada masa tersebut, perayaan Valentine berkembang menjadi tradisi bertukar hadiah romantis, termasuk kartu bergambar simbol cinta.
Perubahan besar terjadi ketika keluarga produsen cokelat Inggris melalui perusahaan Cadbury memperkenalkan cokelat dalam kemasan kotak berbentuk hati sekitar tahun 1861.
Desain kemasan tersebut dihiasi gambar cupid dan ornamen bunga mawar, yang membuatnya terlihat romantis sekaligus menarik secara visual.
Strategi pemasaran ini terbukti sukses dan akhirnya diikuti oleh berbagai produsen cokelat lainnya.
Sejak saat itu, cokelat semakin melekat sebagai simbol cinta dan menjadi bagian dari tradisi Valentine yang dikenal hingga sekarang.
Pengaruh Kandungan Kimia Cokelat terhadap Perasaan Bahagia
Selain faktor sejarah dan budaya, keterkaitan cokelat dengan perasaan cinta juga sering dikaitkan dengan kandungan kimia di dalamnya. Beberapa senyawa dalam cokelat diketahui mampu memengaruhi suasana hati seseorang.
1. Peran Phenylethylamine yang Dijuluki Molekul Cinta
Cokelat mengandung senyawa phenylethylamine (PEA) yang sering disebut sebagai molekul cinta.
Istilah ini menjadi populer setelah psikiater mengaitkannya dengan sensasi jatuh cinta. Teori tersebut kemudian banyak dibahas dalam penelitian akademis, termasuk yang dikaji oleh McGill University.
Meski demikian, penelitian menunjukkan bahwa PEA yang dikonsumsi melalui makanan sebenarnya akan dipecah oleh tubuh sebelum mencapai otak.
Artinya, efek langsung terhadap perasaan romantis masih belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Walau begitu, narasi tentang molekul cinta tetap menarik perhatian publik dan semakin memperkuat citra cokelat sebagai hadiah romantis.
2. Kandungan Theobromine dan Efek Stimulan Ringan
Cokelat juga mengandung theobromine, senyawa alami dari tanaman kakao yang termasuk dalam golongan alkaloid. Berdasarkan penelitian dari National Institute of General Medical Sciences, zat ini memiliki struktur mirip kafein dan memberikan efek stimulan ringan pada sistem saraf.
Kombinasi theobromine dan kafein dapat memberikan sensasi segar serta meningkatkan energi, sehingga seseorang merasa lebih bersemangat setelah mengonsumsi cokelat.
3. Tryptophan dan Hubungannya dengan Serotonin
Kandungan lain dalam cokelat adalah tryptophan, yaitu asam amino yang berperan dalam pembentukan serotonin.
Serotonin dikenal sebagai hormon yang berpengaruh terhadap kestabilan suasana hati, kualitas tidur, serta rasa nyaman secara emosional.
Cokelat hitam dengan kandungan kakao tinggi umumnya memiliki kadar tryptophan lebih banyak dibandingkan cokelat susu. Hal inilah yang membuat cokelat hitam sering dianggap mampu membantu meningkatkan mood.
4. Anandamide dan Sensasi Kebahagiaan
Senyawa lain yang ditemukan dalam cokelat adalah anandamide, yang sering disebut sebagai “molekul kebahagiaan”.
Penelitian dari University of Birmingham menyebutkan bahwa anandamide dapat berinteraksi dengan reseptor di otak yang berhubungan dengan pengaturan suasana hati.
Meskipun efeknya tergolong ringan, keberadaan senyawa ini tetap memberikan kontribusi terhadap rasa nyaman dan bahagia setelah mengonsumsi cokelat.
Alasan Cokelat Lebih Populer Dibanding Hadiah Valentine Lain
Selain memiliki nilai simbolis, cokelat juga unggul dari sisi praktis. Produk ini tersedia dalam berbagai variasi harga sehingga mudah dijangkau oleh banyak kalangan.
Selain itu, cokelat tidak memerlukan ukuran khusus atau perawatan jangka panjang, berbeda dengan hadiah seperti pakaian atau perhiasan.
Cokelat juga mudah dinikmati secara langsung, sehingga memberikan pengalaman menyenangkan tanpa menimbulkan beban bagi penerima hadiah.
Faktor inilah yang membuat cokelat tetap menjadi pilihan utama dalam tradisi Valentine
Hingga kini, cokelat tidak hanya dianggap sebagai makanan manis, tetapi juga menjadi bahasa universal untuk menyampaikan kasih sayang.
Tidak mengherankan jika setiap perayaan Valentine tiba, cokelat tetap menjadi hadiah yang paling banyak dipilih di berbagai belahan dunia.***









