
SERAYUNEWS- Kenapa kondisi kedinginan ekstrem bisa sampai merenggut nyawa seseorang? Padahal, pada awalnya hipotermia sering dianggap sekadar tubuh menggigil karena suhu dingin.
Faktanya, hipotermia bukan kondisi sepele. Ketika tidak segera ditangani, penurunan suhu tubuh dapat memicu gangguan serius pada berbagai sistem organ vital.
Mulai dari jantung, paru-paru, hingga sistem saraf pusat, semuanya dapat terdampak dan berujung pada kegagalan fungsi tubuh secara menyeluruh.
Berikut ini adalah penjelasan lengkap kenapa hipotermia bisa menyebabkan kematian.
Secara medis, hipotermia didefinisikan sebagai kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius.
Dalam keadaan normal, tubuh manusia menjaga suhu di kisaran 36,5–37,5 derajat Celsius agar seluruh organ dapat bekerja optimal. Saat suhu ini turun drastis, mekanisme pertahanan tubuh mulai kewalahan.
Hipotermia dapat terjadi akibat paparan suhu dingin dalam waktu lama, angin kencang, hujan, pakaian basah, kelelahan, atau kurangnya asupan energi.
Kondisi ini sering dialami pendaki gunung, korban kecelakaan di alam terbuka, hingga lansia atau bayi yang daya adaptasinya lebih rendah.
Salah satu organ yang paling rentan terdampak hipotermia adalah jantung. Penurunan suhu tubuh dapat menghambat kerja enzim dan pompa ion di sel otot jantung. Akibatnya, keseimbangan elektrolit terganggu dan sistem kelistrikan jantung melambat.
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kekuatan kontraksi jantung dan mengurangi jumlah darah yang dipompa ke seluruh tubuh. Dalam tahap lanjut, hipotermia dapat memicu gangguan irama jantung seperti bradikardia, blok atrioventrikular, hingga fibrilasi ventrikel yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.
Selain jantung, sistem pernapasan juga terdampak signifikan saat seseorang mengalami hipotermia. Frekuensi napas cenderung menurun seiring turunnya suhu tubuh.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kadar karbon dioksida dalam darah dapat meningkat, memicu hiperkapnia dan asidosis respiratorik.
Pada tahap berat, pusat pernapasan di otak ikut tertekan sehingga refleks bernapas melemah. Kombinasi gangguan pernapasan dan sirkulasi darah inilah yang membuat hipotermia sangat berbahaya jika tidak segera ditangani secara medis.
Hipotermia juga berdampak langsung pada sistem saraf pusat. Otak membutuhkan suhu stabil untuk menjalankan fungsi kognitif dan kesadaran.
Saat suhu tubuh turun, metabolisme sel saraf melambat, menyebabkan penurunan kesadaran, kebingungan, hingga disorientasi.
Dalam kondisi tertentu, penderita hipotermia dapat mengalami fenomena paradoxical undressing, yakni melepas pakaian secara tidak sadar karena gangguan persepsi suhu. Tindakan ini justru mempercepat kehilangan panas tubuh dan meningkatkan risiko kematian.
Tidak hanya jantung dan otak, organ lain juga ikut terdampak. Sistem pencernaan dapat mengalami perlambatan gerak usus, sementara hati berisiko mengalami kerusakan jaringan. Ginjal pun tidak luput dari gangguan akibat peningkatan pengeluaran urine yang dipicu oleh suhu dingin, sehingga cairan tubuh berkurang secara signifikan.
Kehilangan cairan ini memperburuk kondisi sirkulasi darah dan mempercepat penurunan fungsi organ secara menyeluruh. Dalam situasi ekstrem, kegagalan multi organ bisa terjadi.
Kematian akibat hipotermia umumnya terjadi bukan karena satu faktor tunggal, melainkan kombinasi gangguan pada berbagai sistem tubuh.
Ketika jantung melemah, pernapasan melambat, kesadaran menurun, dan organ vital gagal berfungsi, tubuh tidak lagi mampu mempertahankan kehidupan.
Tanpa pertolongan cepat, kondisi ini dapat berkembang dari hipotermia ringan menjadi sedang hingga berat dalam waktu relatif singkat, terutama di lingkungan ekstrem seperti pegunungan.
Gejala awal hipotermia seperti menggigil hebat, kulit dingin, bicara pelo, dan penurunan kesadaran tidak boleh diabaikan. Penanganan dini dengan menghangatkan tubuh secara bertahap, mengganti pakaian basah, serta memberikan asupan energi dapat menyelamatkan nyawa.
Jika kondisi memburuk, penanganan medis profesional sangat diperlukan untuk menstabilkan suhu tubuh dan fungsi organ. Kesadaran akan bahaya hipotermia menjadi kunci penting, terutama bagi mereka yang sering beraktivitas di lingkungan bersuhu rendah.***