
SERAYUNEWS – Perayaan Tahun Baru Imlek sering kali diasosiasikan dengan turunnya hujan, khususnya di Indonesia.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor alam dan juga kepercayaan budaya yang berkembang di masyarakat.
Banyak orang menganggap hujan saat Imlek sebagai simbol keberuntungan, sementara dari sisi ilmiah, kondisi tersebut berkaitan erat dengan pola iklim yang terjadi di wilayah Nusantara.
Berikut penjelasan lengkap mengenai alasan mengapa Imlek kerap identik dengan hujan, dilihat dari sudut pandang ilmiah, kepercayaan masyarakat, hingga prediksi cuaca menjelang perayaan Imlek 2026.
Perayaan Imlek dan Waktu Penanggalan Lunar
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa yang menandai pergantian tahun berdasarkan kalender lunar atau penanggalan bulan.
Berbeda dengan kalender Masehi, tanggal perayaan Imlek selalu berubah setiap tahun, namun biasanya berlangsung antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.
Di berbagai negara, kondisi cuaca saat Imlek dapat berbeda. Di wilayah Tiongkok, perayaan ini biasanya berlangsung pada masa peralihan dari musim dingin menuju musim semi.
Sementara di Indonesia, Imlek justru sering bertepatan dengan puncak musim hujan. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa hujan menjadi ciri khas Imlek di Tanah Air.
Penjelasan Ilmiah Mengapa Imlek Identik dengan Hujan
Secara meteorologis, keterkaitan antara Imlek dan hujan disebabkan oleh waktu perayaan yang hampir selalu berada dalam periode puncak musim hujan di Indonesia.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, curah hujan di Indonesia biasanya meningkat pada Januari hingga Februari.
Selain faktor musim, terdapat beberapa kondisi atmosfer yang turut berperan dalam meningkatkan potensi hujan.
Salah satunya adalah aktivitas Monsun Asia yang membawa massa udara lembap dari wilayah Asia menuju Indonesia.
Aliran udara tersebut mendorong pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah, khususnya Indonesia bagian tengah dan selatan.
Kemudian, masih aktifnya gelombang atmosfer seperti Rossby dan Kelvin juga turut memengaruhi pembentukan awan hujan.
Kedua fenomena ini berperan dalam meningkatkan intensitas hujan, terutama di kawasan Indonesia bagian timur dan tengah.
Selain itu, pola pertemuan angin atau konvergensi yang memanjang di wilayah Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan juga menjadi faktor tambahan yang memicu turunnya hujan.
Kombinasi berbagai faktor atmosfer tersebut menjelaskan secara ilmiah mengapa perayaan Imlek sering berlangsung di tengah kondisi cuaca basah.
Di luar penjelasan ilmiah, hujan saat Imlek juga memiliki makna simbolis dalam budaya masyarakat Tionghoa.
Dalam kepercayaan feng shui, hujan dianggap sebagai lambang keberuntungan dan rezeki. Air dipandang sebagai sumber kehidupan yang mendukung pertumbuhan dan kemakmuran.
Hujan deras sering diartikan sebagai pertanda rezeki melimpah, sedangkan hujan gerimis dipercaya membawa keberuntungan dalam skala kecil.
Namun, jika hujan disertai badai, sebagian masyarakat menganggapnya sebagai pertanda kurang baik karena berpotensi menimbulkan musibah.
Selain itu, terdapat mitos yang menyebut hujan saat Imlek berkaitan dengan turunnya Dewi Kwan Im yang menyiram bunga Mei Hwa. Dalam cerita tersebut, hujan dimaknai sebagai berkah yang membawa harapan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Prediksi Cuaca Menjelang Imlek 2026
Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui Radio Republik Indonesia, pernyataan dari pejabat BMKG menunjukkan bahwa curah hujan pada awal tahun 2026 diperkirakan berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebutkan bahwa potensi hujan lebat diperkirakan berlangsung sejak Januari hingga Maret 2026.
Sejumlah wilayah yang diprediksi terdampak meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Perayaan Imlek 2026 sendiri jatuh pada 17 Februari 2026. Dengan kondisi musim hujan yang masih berlangsung pada periode tersebut, kemungkinan besar sebagian wilayah Indonesia akan mengalami hujan saat perayaan berlangsung.
Dengan prediksi curah hujan yang masih tinggi pada awal 2026, masyarakat diharapkan tetap mempersiapkan perayaan Imlek dengan matang, termasuk memperhatikan kondisi cuaca demi kelancaran aktivitas dan keselamatan bersama.***










