
SERAYUNEWS– Selesai menyembelih kurban, apakah selesai urusan? Belum tentu. Di tengah hiruk-pikuk perayaan IdulAdha, ada satu pertanyaan besar yang seharusnya membuat hati setiap mukmin bergetar: “Apakah kurban saya diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala?”
Dikutip dari Baqu Purbalingga, secara hakiki, diterimanya sebuah amal adalah rahasia langit. Namun, para ulama salaf telah merumuskan indikator-indikator ilmiah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi kabar gembira sekaligus bahan evaluasi diri.
Tanda paling nyata bahwa sebuah kebaikan diterima adalah ketika kebaikan itu melahirkan kebaikan berikutnya. Jika pasca-qurban Anda merasa lebih ringan melangkah ke masjid, lebih lembut kepada sesama, dan lebih gemar bersedekah, itu adalah sinyal hijau dari langit.
Sebagaimana kaidah emas yang dideklarasikan oleh para ulama salaf:
> جَزَاءُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا
> “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 494)
Qurban yang diterima tidak ditakar dari seberapa mahal hewannya atau seberapa viral fotonya di media sosial, melainkan dari ketakwaan dan keikhlasan yang bersemi di dalam dada.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan esensi ini dalam Al-Qur’an:
> لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
> “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darikulah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Qurban adalah persembahan untuk Rabbul ‘Alamin, bukan untuk mengejar status sosial atau label “dermawan” di mata manusia.
Aneh tapi nyata, orang yang amalnya diterima justru bukan orang yang jumawa, melainkan mereka yang hatinya bergetar karena takut amalnya ditolak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai karakter hamba yang mulia:
> وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
> “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”
(QS. Al-Mu’minun: 60)
Ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya apakah mereka adalah orang yang bermaksiat, Rasulullah ﷺ meluruskannya dalam hadits shahih:
> لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ
> “Bukan, wahai putri As-Siddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun mereka takut amal-amal mereka tidak diterima.”
(HR. Tirmidzi, no. 3175. Dishahihkan oleh Al-Albani)
Hamba yang cerdas memahami bahwa kemampuannya untuk berkurban adalah murni karena taufik dan hidayah Allah Subhanahu wata’ala, bukan karena kehebatan finansialnya. Oleh karena itu, setelah berqurban ia tidak merasa berjasa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebaliknya, ia justru memperbanyak istighfar atas segala kekurangan dalam ibadahnya.
Jangan hanya sibuk memastikan hewan qurbannya “sah” secara fikih, tapi lupa mengqurbankan penyakit hati kita. Hakikat qurban sejati adalah menyembelih kesombongan, menumbangkan riya, dan mengorbankan hawa nafsu demi ketaatan mutlak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Self-reminder bagi kita semua yang telah berkurban tahun ini. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menerima setiap tetesan darah hewan kurban kita dan menjadikannya saksi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.