
SERAYUNEWS – Sosok legendaris seni tradisi Lengger asal Banyumas, Dariah, kembali hadir menyapa zaman. Melalui sentuhan teknologi modern, perjalanan hidup sang maestro diabadikan dalam novel grafis berbasis augmented reality (AR) bertajuk “Renjana: Dongeng Kehidupan Maestro Lengger Dariah”.
Dariah bukan sekadar penari. Ia adalah saksi sejarah yang dedikasi seninya melampaui berbagai zaman. Mmulai dari era kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga masa Reformasi.
Hingga hari ini, pengaruhnya tetap hidup sebagai sumber inspirasi bagi para koreografer dan seniman yang menekuni seni tradisi Lengger.
Novel ini diluncurkan sebagai bagian dari program Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro, sebuah inisiatif dari Dana Indonesiana, Kementerian Kebudayaan RI tahun 2024.
Bertempat di Ruang Gatra Hetero Space, Purwokerto, pada Rabu (25/2/2026), acara peluncuran berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan.
Mulai dari Pemutaran film dokumenter pembuatan novel, Diskusi buku dan demonstrasi teknologi AR, hingga Pementasan seni Lengger.
Rida Purnama Sari, penggagas novel ini, menjelaskan bahwa proyek tersebut merupakan upaya membangun pusat data digital untuk mendokumentasikan jejak para pelaku seni di Banyumas.
Pemilihan format novel grafis AR menjadi cara baru untuk memadukan nilai artistik tradisi dengan kecanggihan teknologi.
“Lewat buku ini kami tak semata ingin menonjolkan sosok Maestro lengger Dariah, tapi di balik buku ini kami ingin menampilkan wajah penciptaan produk kreatif di Banyumas penuh kolaborasi lintas disiplin ilmu,” ujar Rida.
Upaya ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Staf Khusus Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis, menekankan pentingnya medium modern untuk mengenalkan keteladanan sang maestro kepada generasi muda.
“Karya ini merupakan suatu program budaya yang penting karena bisa mengenalkan kembali bagaimana tokoh Maestro Dariah kepada generasi muda,” ungkap Annisa.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito, memuji inovasi ini sebagai langkah yang visioner.
“Peluncuran novel grafis berbasis augmented reality ini merupakan langkah strategis yang visioner karena menggabungkan teknologi dengan kearifan lokal,” kata Agus.
Perhelatan ini ditutup dengan apik lewat pementasan Lengger oleh penari Otniel Tasman, yang diringi tabuhan kendang Sukendar dan suara merdu sinden Daisah.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia membagikan 50 eksemplar novel secara gratis kepada para tamu undangan yang terdiri dari perwakilan sanggar tari, pelaku seni, akademisi, hingga sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Banyumas.