
SERAYUNEWS – Warga Desa Jati, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, kembali menggelar Festival Tenongan sebagai bagian dari tradisi budaya yang terus dijaga hingga kini. Ratusan warga tampak antusias mengikuti kegiatan tahunan tersebut yang dipusatkan di Pelataran Sedana Bumi, Dusun Jati.
Tenong adalah wadah tradisional dari anyaman bambu, menjadi simbol utama dalam festival ini. Pada masa lalu tenong digunakan sebagai tanda persembahan kepada penguasa. Seiring berjalannya waktu, tradisi itu mengalami pergeseran makna.
“Sekarang tenong menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas berkat dan hasil bumi yang diterima. Tradisi ini kami lestarikan sebagai bagian dari budaya desa,” ujar Kepala Desa Jati, Aris Hartono, Selasa (13/1/2026).
Dalam pelaksanaannya, warga membawa tenong masing-masing dari rumah berisi nasi lengkap dengan lauk pauk. Seluruh tenong tersebut kemudian didoakan bersama dalam prosesi memetri bumi yang dipimpin oleh juru kunci setempat. Prosesi ini menjadi puncak ungkapan syukur warga.
Usai doa bersama, suasana berubah menjadi lebih meriah. Gunungan aneka sayuran yang telah disusun rapi menjadi sasaran rebutan warga. Tak hanya sayuran, nasi dan berbagai makanan yang telah disiapkan panitia juga dibagikan dan diperebutkan sebagai simbol keberkahan.
Menurut Aris, Festival Tenong tidak hanya dimaknai sebagai ungkapan syukur, tetapi juga sarana memperkuat kebersamaan, gotong royong, dan silaturahmi antarwarga.
“Kegiatan ini selain mendukung nilai-nilai kebudayaan, juga mencerminkan kerukunan dan kebersamaan warga. Semua ikut terlibat tanpa melihat latar belakang,” katanya.
Ia berharap Festival Tenong dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan dan menjadi warisan budaya bagi generasi mendatang. Pemerintah desa, kata Aris, berkomitmen penuh mendukung pelestarian tradisi tersebut.
“Mudah-mudahan membawa keberkahan untuk warga Desa Jati. Kami ingin generasi selanjutnya bisa terus melestarikan budaya yang sangat luar biasa ini,” ucapnya.
Selain Festival Tenong, rangkaian kegiatan budaya juga diisi dengan ruwatan wayang yang digelar di kediaman Kepala Desa Jati. Ruwatan tersebut menjadi simbol doa para petani agar terhindar dari hama dan diberi hasil pertanian yang melimpah.
“Ini juga bagian dari upaya nguri-nguri budaya leluhur. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai etika, sikap, dan integritas kepada generasi muda,” pungkas Aris.