
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Permintaan unik datang dari salah satu bocah bajang yang akan menjalani prosesi ruwatan anak berambut gimbal dalam Dieng Culture Festival (DCF) 2026.
Malayeka Rafana Arabella, bocah berusia 8 tahun asal Desa Bandingan, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara, memiliki satu permintaan sebelum rambut gimbalnya dipotong. Ia menginginkan sepeda listrik berwarna pink lengkap dengan keranjang di bagian depan.
Malayeka menjadi satu dari 13 anak berambut gimbal yang dijadwalkan mengikuti prosesi pencukuran rambut dalam rangkaian DCF 2026. Prosesi tersebut akan berlangsung di Kompleks Candi Arjuna, kawasan Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, pada 28-30 Agustus 2026.
Mengusung tema “Spirit of Harmony”, DCF 2026 kembali menghadirkan sejumlah agenda budaya. Salah satunya Kirab Budaya dan Ruwatan Anak Gimbal yang menjadi tradisi khas masyarakat Dieng.
Dalam tradisi masyarakat Dieng, pencukuran rambut gimbal anak bajang tidak dilakukan secara sembarangan. Sebelum menjalani prosesi ruwatan, anak biasanya menyampaikan permintaan tertentu yang kemudian diupayakan untuk dipenuhi.
Malayeka pun menyampaikan permintaan yang cukup spesifik. Ia menginginkan sepeda listrik berwarna pink dengan keranjang di bagian depan.
“Sepeda listrik warna pink, yang depannya ada keranjangnya,” kata Sainem, ibu Malayeka.
Permintaan tersebut menjadi bagian dari kisah Malayeka menjelang prosesi ruwatan yang akan dijalaninya bersama 12 anak bajang lainnya di DCF 2026.
Sainem menceritakan, rambut gimbal pada putrinya mulai tumbuh ketika Malayeka masih berusia sekitar tiga bulan.
Rambut tersebut kemudian dibiarkan hingga Malayeka tumbuh besar dan kini duduk di kelas 2 SD. Setelah menunggu beberapa tahun, rambut gimbal Malayeka akhirnya akan dipotong melalui prosesi ruwatan pada DCF 2026.
Menariknya, permintaan Malayeka berubah seiring pertambahan usia. Ketika masih kecil, ia pernah meminta sesuatu yang sederhana, salah satunya minuman Yakult.
Kini, ketika usianya bertambah, permintaannya juga semakin besar.
“Kalau waktu kecil juga pernah minta Yakult. Tambah besar, tambah gede juga permintaannya,” ujar Sainem.
Dalam kesehariannya, Malayeka merupakan anak yang aktif. Sepulang sekolah, ia biasa bermain dan sesekali membantu ibunya mengerjakan pekerjaan ringan di rumah.
Beberapa pekerjaan rumah yang terkadang ia lakukan antara lain membantu memasak dan menyapu lantai.
Untuk makanan, Malayeka diketahui menyukai tempe dan tahu. Namun belakangan, ia juga lebih sering meminta makanan seperti seblak.
Kisah Malayeka menjadi salah satu warna dalam pelaksanaan Ruwatan Anak Gimbal DCF 2026. Permintaan sepeda listrik pink yang disampaikannya menjadi bagian dari perjalanan seorang bocah bajang menuju salah satu tradisi penting masyarakat Dieng.
Ruwatan Anak Gimbal menjadi salah satu tradisi yang terus dipertahankan masyarakat Dieng dari generasi ke generasi.
Di balik prosesi pencukuran rambut gimbal, terdapat rangkaian tradisi yang mempertemukan anak, keluarga, masyarakat, dan budaya lokal. DCF menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan tradisi tersebut kepada masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Melalui tema “Spirit of Harmony”, DCF 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan dan atraksi budaya. Festival ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi dengan generasi muda agar warisan budaya Dieng tetap dikenal dan dilestarikan.