
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Talud Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 Perumdam Tirta Serayu Banjarnegara di Dukuh Kemplang, Desa Sigaluh, Kecamatan Sigaluh, longsor setelah luapan air diduga memicu pergerakan tanah.
Kondisi tersebut terjadi setelah dua pompa utama Perumdam Tirta Serayu mengalami kerusakan di tengah musim kemarau. Kerusakan pompa membuat aliran air dari Intake 2 harus dialihkan ke IPA 1 yang berada di elevasi lebih rendah.
Longsornya talud membuat operasional IPA 1 dihentikan sementara. Dampaknya, distribusi air bersih kepada sekitar 8.000 sambungan rumah (SR) terganggu.
Pj Direktur Perumdam Tirta Serayu Banjarnegara, Fauzan, menjelaskan persoalan bermula dari penurunan debit air Kali Ori akibat musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat Perumdam harus mengambil pasokan air dari Sungai Serayu melalui Intake 2. Awalnya, pemompaan air dari Intake 2 menuju IPA 2 berjalan normal.
Namun, ketika debit air semakin menurun, beban kerja pompa meningkat. Dua pompa utama berkapasitas masing-masing 122 kilowatt (kW) kemudian mengalami panas berlebih atau overheat hingga rusak secara berurutan.
Salah satu pompa masih dalam proses perbaikan. Karena bobotnya mencapai sekitar satu ton, proses penanganannya membutuhkan waktu.
Belum selesai memperbaiki pompa pertama, pompa utama lainnya juga mengalami kerusakan.
“Karena dua pompa utama rusak, kami hanya memiliki pompa cadangan berkapasitas 75 kW. Kami tidak berani memaksakan pompa kecil ini memompa air naik ke IPA 2 yang elevasinya lebih tinggi. Akhirnya, air dari Intake 2 kami masukkan ke IPA 1 yang berada di bawah,” katanya.
Pengisian IPA 1 selesai dilakukan pada Selasa sekitar pukul 23.00 WIB. Namun, volume air yang masuk kemudian memicu luapan pada hari berikutnya.
Meski saluran pembuangan menuju Sungai Serayu telah tersedia, kondisi tanah yang mengalami retakan akibat kemarau panjang membuat sebagian air meresap ke dalam tanah.
Resapan tersebut diduga memicu pergerakan tanah hingga akhirnya talud di sekitar IPA 1 longsor.
Kondisi ini membuat Perumdam tidak berani kembali mengoperasikan IPA 1. Tangki IPA 1 dan IPA 2 yang masing-masing memiliki kapasitas 50 liter per detik kini dalam kondisi kosong.
“Kami tidak berani beroperasi atau mengisi air ke IPA 1. Jika dipaksakan, beban tangki akan sangat berat dan kami khawatir longsor akan bertambah parah hingga bangunan ambruk,” katanya.
Kerusakan fasilitas tersebut berdampak cukup luas terhadap pelanggan Perumdam Tirta Serayu. Sekitar 8.000 sambungan rumah terdampak, terdiri atas sekitar 4.000 SR yang selama ini mendapat pasokan dari IPA 1 dan 4.000 SR dari IPA 2.
Untuk mengurangi dampak penghentian distribusi, Perumdam Tirta Serayu mulai melakukan langkah darurat dengan menguji pompa cadangan berkapasitas 75 kW untuk mendorong sebagian air menuju IPA 2.
Namun, kapasitas pompa tersebut jauh lebih kecil dibandingkan pompa utama dan memang bukan diperuntukkan bagi jalur tersebut. Akibatnya, debit air yang dihasilkan masih sangat terbatas.
“Kami mencoba pompa cadangan ini agar masyarakat tetap mendapatkan akses air, meskipun kemungkinan harus mengantre,” kata Fauzan.
Perumdam juga mempercepat perbaikan pompa utama berkapasitas 122 kW. Jika perbaikan berjalan sesuai target, distribusi air diperkirakan mulai kembali normal pada Kamis malam.
Selain memperbaiki pompa, petugas juga melakukan pembersihan Intake 1 sebagai langkah alternatif agar fasilitas tersebut dapat kembali digunakan.
Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, turut meninjau lokasi talud yang longsor.
Hendro meminta penanganan segera dilakukan melalui koordinasi antara Perumdam Tirta Serayu, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Menurutnya, material longsor perlu dibersihkan terlebih dahulu agar kondisi lokasi dapat ditangani dengan aman. Setelah itu, struktur penahan tanah harus diperkuat untuk mencegah longsor meluas.
“Untuk penanganan material longsor tentunya dibersihkan terlebih dahulu. Setelah itu, baru memasang bronjong penahan tanah di lokasi longsoran agar struktur kembali aman,” kata Hendro.
Penanganan talud menjadi prioritas agar fasilitas pengolahan air dapat kembali beroperasi dengan aman. Bersamaan dengan itu, perbaikan pompa utama dan optimalisasi sumber air alternatif terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan distribusi air kepada ribuan pelanggan.
Peristiwa ini menunjukkan tantangan penyediaan air bersih di tengah musim kemarau panjang. Penurunan debit sumber air yang disertai gangguan fasilitas teknis dapat berdampak langsung terhadap layanan air bersih bagi masyarakat.