
PURWOKERTO, SERAYUNEWS ─ Di sudut kawasan GOR Satria hingga ramainya area kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), lalu lalang sepeda listrik bertuliskan Mlaku Coffee kini menjadi pemandangan yang familiar. Tanpa bangunan megah dan pendingin udara, brand kopi keliling ini berhasil menjemput pasarnya sendiri di pinggir jalan.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik roda gerobak yang saban hari menyusuri jalanan Kota Satria ini, ada kisah tentang keberanian bangkit dari keterpurukan bisnis.
Sejak hadir di Purwokerto pada 2024, Mlaku Coffee memasuki babak baru pada 2025 ketika brand ini diambil alih sepenuhnya oleh manajemen baru. Menurut Heni, bagian personalia GA Mlaku Coffee Purwokerto, brand ini lahir dari momentum krusial ketika perusahaan induk sebelumnya mengalami kolaps.
“Sebelum beralih ke sistem mitra seperti sekarang, PT induknya sempat kolaps. Brand ini kemudian diambil alih sepenuhnya oleh owner kami,” ungkap Heni di kantor Mlaku Coffe Jalan KS Tubun Rejasari Kecamatan Purwokerto Barat Kabupaten Banyumas, Senin (10/8/2026) di Purwokerto.
Di tengah ketidakpastian itu, sang pemrakarsa melihat celah yang belum banyak digarap di Purwokerto yaitu kopi keliling kekinian yang fleksibel. Berbekal pengalaman dan pengamatan bahwa pasar Purwokerto sangat adaptif terhadap hal baru, konsep street coffee berbasis kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda listrik pun dieksekusi.
Di saat pelaku usaha kuliner lain berlomba-lomba menyewa ruko mahal, Mlaku Coffee justru mengambil arah berlawanan. Mereka menggunakan sepeda listrik dan gerobak khusus sebagai armada utama.
Strategi ini bukan tanpa alasan. Secara kalkulasi bisnis, penggunaan armada mobile terbukti efektif memangkas biaya operasional dan uang sewa tempat yang sering kali menjadi beban terberat UMKM.
Tak hanya mengandalkan unit usaha mandiri, Mlaku Coffee juga membuka kran kemitraan (franchise) mulai dari kisaran Rp40 jutaan. Paket ini sudah mencakup perlengkapan, bahan baku, hingga pelatihan intensif (training) selama tiga hari.
Guna menjaga standar kualitas, seluruh produksi dan penyediaan bahan baku dipusatkan (centralized) di kantor pusat sebelum didistribusikan ke para penjual di lapangan.
Menjalani bisnis di jalanan tentu tak pernah sepi dari tantangan. Heni membeberkan bahwa cuaca menjadi salah satu musuh utama operasional. Ketika hujan deras mengguyur Purwokerto, para penjual kesulitan untuk mangkal. Dalam situasi ini, daya tahan produk yang berkisar hingga 3 hari menjadi tumpuan agar bahan baku tidak terbuang sia-sia.
Realita tersebut dirasakan langsung oleh para penjual di jalanan. Ragil, salah satu penjual keliling Mlaku Coffee, menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya harus bersiasat saat cuaca tak bersahabat.
“Kalau hujan dari pagi, biasanya ya nunggu terang dulu baru berangkat. Tapi kalau pas lagi jualan di jalan tiba-tiba hujan, ya harus langsung neduh dulu nunggu terang,” tutur Ragil, menggambarkan perjuangan hariannya di balik setang gerobak kopi.

Selain faktor alam, Heni mengatakan, Mlaku Coffee juga sempat berada di titik terendah akibat dinamika Sumber Daya Manusia (SDM). Titik terendah itu terjadi saat kita kekurangan karyawan atau ketika tingkat keluar-masuk (turnover) pekerja tinggi. Hal itu sempat membuat grafik penjualan tidak konsisten.
Untuk mengatasi hal tersebut, manajemen menerapkan sistem rolling area bagi para karyawan yang tersebar di lima titik vital Purwokerto mulai dari kawasan Unwiku, UIN Saizu, Unsoed, Menara Pandang, hingga GOR Satria. Selain itu, mereka juga berekspansi dengan menerima pesanan khusus untuk berbagai acara seperti wedding dan event komunitas.
Meski kini bermunculan kompetitor dengan konsep serupa di Purwokerto, Mlaku Coffee tetap melaju tenang.
“Kunci keberlanjutan kami sebenarnya ada pada dua hal sederhana yang konsisten dijaga, yaitu kualitas rasa produk dan pelayanan yang ramah,” ungkap Heni.
Berawal dari keberanian mengambil alih brand dan membangunnya kembali, Mlaku Coffee membuktikan bahwa lokasi bisnis terbaik tidak selalu berada di balik tembok ruko yang megah melainkan di mana pun roda sepeda mereka berhenti dan menyapa pelanggan dengan hangat.
Strategi menjemput bola ini terbukti ampuh memikat hati masyarakat Purwokerto, khususnya kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Kombinasi harga terjangkau dan rasa yang tak kalah dari kafe berbintang menjadi alasan utama mereka setia membeli.
Mona, salah seorang mahasiswa Universitas Wijayakusuma (Unwiku) Purwokerto yang sedang membeli Kopi Gula Aren, mengakui bahwa produk ini menawarkan keseimbangan antara kualitas rasa dan isi dompet.
“Kopinya enak dan harganya terjangkau banget buat ukuran kantong mahasiswa,” tutur Mona. (dhiyan al ghani)