
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Layanan Bus Trans Banyumas sementara tidak beroperasi sejak Minggu, 30 Agustus 2026. Penghentian tersebut dilakukan seiring proses peralihan pengelolaan atau hand-over dari APBN ke APBD Kabupaten Banyumas serta evaluasi menyeluruh terhadap operasional layanan.
Berdasarkan press release Trans Banyumas, Pemerintah Kabupaten Banyumas menyampaikan bahwa proses peralihan pengelolaan tersebut memerlukan evaluasi terhadap operasional Bus Trans Banyumas. Layanan untuk sementara dihentikan hingga pelaksanaan evaluasi selesai.
Pemerintah Kabupaten Banyumas menyebut evaluasi akan diupayakan sesegera mungkin. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari penilaian kepatuhan pelayanan umum dan bukan merupakan bentuk pengabaian terhadap kebutuhan masyarakat.
Selama layanan berhenti sementara, masyarakat pengguna Trans Banyumas diimbau menyesuaikan kebutuhan perjalanan dan menggunakan moda transportasi alternatif yang tersedia.
Kondisi tersebut turut dirasakan Audy, salah satu pengguna Trans Banyumas yang biasanya menggunakan layanan tersebut untuk perjalanan Purwokerto-Ajibarang sekitar dua kali dalam sepekan.
“Selama ini naik Trans aman, tidak ada pengamen atau tindak kejahatan lain, nyaman, adem, efisien waktu, tarif murah, jadi ada kemudahan dalam menggunakan transportasi umum,” ujar Audy, Selasa (1/9/2026).
Setelah Trans Banyumas sementara berhenti beroperasi, Audy kini menggunakan mikrobus sebagai alternatif transportasi. Namun, menurutnya, terdapat sejumlah perbedaan yang dirasakan, terutama dari sisi biaya, waktu perjalanan, dan lokasi pemberhentian.
Ia mengatakan biaya yang dikeluarkan untuk transportasi pengganti menjadi lebih tinggi. Diketahui, ongkos naik Trans Banyumas antara Rp2000 sampai Rp3900.
Selain itu, waktu tempuh perjalanan juga dirasakan lebih lama dibandingkan ketika menggunakan Trans Banyumas.
Perbedaan lainnya terdapat pada lokasi pemberhentian. Menurut Audy, mikrobus yang digunakannya memiliki pemberhentian maksimal di kawasan SMK Wiworotomo, Kalibogor. Lokasi tersebut dinilai lebih jauh dari pusat kota dibandingkan dengan pemberhentian Trans Banyumas di Halte Pasar Pon.
“Kalau Trans Banyumas kan pemberhentiannya di Halte Pasar Pon yang relatif lebih dekat ke dalam kota,” katanya.
Penghentian sementara Trans Banyumas juga menjadi perhatian mahasiswa yang selama ini menggunakan layanan tersebut untuk perjalanan pulang ke daerah asal.
Andin, seorang mahasiswa Universitas Wijayakusuma (Unwiku), mengaku menyayangkan kondisi tersebut. Ia menilai Trans Banyumas menjadi salah satu pilihan transportasi umum yang terjangkau, terutama bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum.
“Jujur sedih banget, karena Trans Banyumas itu salah satu transport umum yang paling affordable, baik itu buat anak-anak sekolah maupun orang tua,” ujar Andin.
Menurut Andin, kemudahan dalam menggunakan Trans Banyumas tidak hanya berasal dari tarifnya yang murah. Keberadaan aplikasi untuk memantau posisi bus juga dinilai membantu pengguna dalam merencanakan perjalanan.
“Selain tarif yang murah, dia juga bisa dijangkau lewat aplikasi, jadi mempermudah buat mantau busnya lagi di mana,” katanya.
Andin sendiri mengaku termasuk pengguna yang cukup bergantung pada Trans Banyumas karena kerap menggunakan layanan tersebut ketika pulang ke rumah.
Ia berharap operasional Trans Banyumas dapat kembali berjalan sehingga masyarakat dapat kembali memperoleh akses transportasi umum yang dinilai murah dan mudah dijangkau.
“Semoga Trans Banyumas bisa beroperasi lagi biar masyarakat ke mana-mana bisa lebih mudah,” ujarnya. (dhiyan Al Ghani)