
SERAYUNEWS – Universitas Terbuka (UT) Purwokerto terus menunjukkan komitmennya dalam memajukan sektor pariwisata daerah. Melalui gelaran Focus Group Discussion (FGD) di Warung Putri Gunung Baturraden, Kabupaten Banyumas, Kamis (18/6/2026), UT Purwokerto mendiseminasikan hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) sekaligus merancang arah baru pengembangan wisata.
Program pendampingan yang telah berjalan sejak 2023 ini berfokus pada desa binaan di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, dengan ikon wisata utamanya, Curug Jenggala.
Dalam forum tersebut, para peserta merumuskan kelanjutan pendampingan melalui tema besar: ‘Roadmap Model Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan: Penguatan Manajemen Wisata, Optimalisasi UMKM, Potensi Budaya, dan Konservasi Lingkungan.’ Guna memperkuat sinergi, agenda ini turut melibatkan akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dinas terkait, Perum Perhutani, hingga tokoh masyarakat setempat.
Direktur Utama UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa intervensi yang dilakukan pihak kampus di sekitar Curug Jenggala telah memasuki tahun ketiga. Upaya nyata tersebut mencakup pembangunan infrastruktur akses jalan sepanjang 900 meter dengan lebar 1 meter, fasilitas penunjang, hingga pelatihan intensif bagi Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dengan total serapan anggaran memperkirakan mencapai Rp500 juta lebih.
“Ini belum selesai. Setelah ini kami akan melakukan roadmap untuk Keberlanjutan lima tahun. Sehingga dibutuhkan kolaborasi pentahelix. Jadi tidak hanya mengembangkan sektor pariwisata, tetapi juga SDM, manajemen pengelola wisata, dan potensi budaya,” ujarnya.
Berkat pendampingan terstruktur ini, Prasetyarti menyebutkan arus kunjungan wisatawan ke Curug Jenggala melonjak signifikan hingga 113 persen. Kendati demikian, ia menegaskan masih banyak ruang yang bisa dioptimalkan, salah satunya sektor UMKM warga setempat yang kini mulai disuntik pelatihan digital marketing.
“Saat ini untuk memajukan sebuah desa kita tidak bisa hanya mengandalkan cara tradisional. Tapi harus memanfaatkan teknologi agar tersampaikan ke seluruh masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, bahkan internasional,” katanya.
Lebih lanjut, FGD ini juga diproyeksikan sebagai ruang konfirmasi, validasi, dan pemetaan strategi pembangunan jangka panjang. Salah satu rencana ekspansi strategis yang dibidik adalah perluasan zona wisata hingga ke Situs Lemah Wangi.
“Karena itu kami perlu kolaborasi bersama dengan banyak pihak. Bersama-sama menggali potensi yang bisa dikembangkan,” katanya.
Langkah masif UT Purwokerto ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Desa Ketenger. Kepala Desa Ketenger, Wartam, mengungkapkan rasa terima kasih mendalam dari seluruh warga, khususnya komunitas di Dusun Kalipagu. Ia mengenang kembali perjuangan berat warganya yang merintis Curug Jenggala secara swadaya tanpa upah sejak tahun 2015.
“Lalu ada pihak UT yang membantu kami, membuatkan jalan, gazebo dan pendampingan lainnya. Hampir Rp 500 juta untuk sarpras jalan. Ini sangat berdampak bagi kami,” katanya.
Kerja keras kolektif itu kini membuahkan hasil manis. Wartam membeberkan, kunjungan ke Curug Jenggala saat akhir pekan (weekend) kini mampu menyentuh angka 2.000 pelancong per hari, dengan akumulasi bulanan berkisar antara 15.000 hingga 20.000 pengunjung.
Menatap program kerja tahun 2026, pihak desa bersama UT Purwokerto siap melebarkan sayap pengembangan ke area Situs Lemah Wangi untuk mengangkat potensi wisata berbasis sejarah dan alam.
“Ke depan, karena di Lereng Gunung Slamet bagian selatan ini banyak situs budaya yang bisa dikembangkan dan digali potensinya,” ungkapnya.