
CILACAP, SERAYUNEWS – Komunitas Tjilatjap History bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap menggelar Pameran Cagar Budaya bertajuk Jejak Sejarah Kota Lama Tjilatjap. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Jalabumi Cilacap selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu (6-8/8/2026), menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal perjalanan sejarah Kota Cilacap sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah.
Pembina Komunitas Tjilatjap History, Thomas Sutasman, mengatakan pameran tersebut merupakan upaya mengenalkan sejarah panjang Cilacap kepada masyarakat melalui berbagai koleksi arsip, foto lawas, artefak, hingga benda-benda memorabilia.
“Kami bekerja sama dengan Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Cilacap menyelenggarakan Pameran Cagar Budaya dengan tema Jejak Sejarah Kota Lama Cilacap. Kegiatannya berlangsung selama tiga hari,” ujar Thomas, Jumat (7/8/2026).
Tak hanya menghadirkan pameran koleksi sejarah, panitia juga menggelar bedah buku Tempat yang Berkisah. Selain itu, pengunjung diajak mengikuti kegiatan jelajah Kota Lama Cilacap dengan rute yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Cilacap, Masjid Agung, Kodim, SMP Negeri 8, Rumkit, Lapas, hingga kembali ke Pendopo.
Menurut Thomas, rangkaian kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya melihat koleksi sejarah, tetapi juga memahami langsung lokasi-lokasi yang memiliki nilai historis di Kota Cilacap.
Thomas menjelaskan, salah satu tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Cilacap memiliki sejarah yang sangat panjang.
Ia mencontohkan keberadaan Prasasti Luitan yang diperkirakan berasal dari tahun 903 Masehi sebagai salah satu bukti awal sejarah wilayah tersebut.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa Cilacap mempunyai sejarah yang sangat panjang. Selain itu, kami juga ingin menumbuhkan rasa nasionalisme karena perjuangan masyarakat Cilacap sudah ada sejak dahulu,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman sejarah menjadi penting, terutama menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, agar masyarakat semakin menghargai perjuangan para pendahulu.
Dalam pameran itu, pengunjung diajak menelusuri perkembangan kawasan Kota Lama Cilacap melalui dokumentasi berbagai bangunan bersejarah, mulai dari kawasan titik nol, gereja tua, kantor pos, stasiun kereta api, Damri, hingga bangunan peninggalan bersejarah lainnya.
Thomas mengatakan sebagian besar bangunan tersebut kini sudah tidak lagi utuh. Banyak peninggalan bersejarah yang musnah akibat peristiwa Bumi Hangus pada 1947.
“Yang kami tampilkan adalah jejak Kota Lama Cilacap. Dulu kawasan ini memiliki banyak bangunan penting, tetapi setelah peristiwa Bumi Hangus tahun 1947, banyak yang hancur dan hilang,” jelasnya.
Saat ini, menurut Thomas, hanya beberapa bangunan yang masih bertahan. Salah satunya adalah bangunan yang kini dimanfaatkan sebagai kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap, sementara bangunan lain telah mengalami renovasi maupun perubahan fungsi.
Pameran mendapat sambutan positif dari masyarakat. Thomas menyebut pengunjung yang datang didominasi pelajar dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga SMK. Selain itu, masyarakat umum juga terlihat antusias mengunjungi lokasi pameran untuk mempelajari sejarah daerahnya.
“Mereka baru mengetahui ternyata Cilacap memiliki sejarah yang sangat kaya. Ini menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengenal sejarah daerahnya sendiri,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Thomas berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mencintai sejarah Cilacap dan ikut menjaga warisan budaya yang masih tersisa.
“Cilacap punya sejarah yang panjang. Sejarah ini harus kita rawat sebagai memori kolektif bangsa. Dengan belajar sejarah, kita juga belajar nilai-nilai dan kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu,” pungkasnya.