
SERAYUNEWS-Kabupaten Banjarnegara memiliki ratusan Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB). Untuk itu, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara melakukan dan membuat skala prioritas dalam melakukan kajian, sehingga penetapan cagar budaya nantinya ada pertimbangan dalam menetapkan cagar budaya.
Dalam penetapan cagar budaya, tentu harus mempertimbangkan banyak hal, mulai dari aspek pelestarian, aspek multiefek, serta pemanfaatan setelah ODCB tersebut ditetapkan menjadi Cagar Budaya.
Anggota TACB Banjarnegara Sugeng Waluyo mengatakan, kajian terkait cagar budaya ini harus benar-benar dilakukan dengan teliti, kajian ODCB yang dilakukan oleh TACB harus benar-benar mempertimbangkan berbagia aspek sebelum ditetapkan sebagi Cagar Budaya.
“Harus dipertimbangkan pula apakah setelah ditetapkan sebagai cagar budaya akan berdampak positif pada perputaran ekonomi dan juga pengembangan pengetahuan masyarakat di Banjarnegara yang ada di sekitar objek cagar budaya,” katanya, Jumat (23/1/2026).
Selain itu, sosialisasi terhadap masyarakat terkait beberapa cagar budaya di Banjarnegara yang sudah ditetapkan harus dilakukan, baik melalui platform digital maupun lainnya, termasuk pada laman resmi milik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara.
Untuk itu, dia meminta tim segera melakukan kajian terkait ODCB, kajian ini juga harus melihat korelasi lain, seperti sektor pariwisata yang sudah ada atau sedang dikembangkan oleh Pemkab Banjarnegara.
“Karenanya tahun ini kita akan tuntaskan kawasan Kota Lama Klampok, untuk mendukung program Kota Pusaka. Kita akan segera kaji dan ajukan ke Bupati Banjarnegara untuk ditetapkan sebagai cagar budaya yaitu objek: Kawedanan, Polsek, Kecamatan, makam Wargo Hutomo dan Kantor Pos Klampok. Lokasinya sangat strategis untuk pengembangan wisata sejarah karena didukung oleh kerajinan keramik Klampok juga,” katanya.
Selain itu, tambah Sugeng, di area kota juga akan dikaji makam Selamanik dan Bendungan Bandjar Tjahjana Werken yang lokasinya di area Serulingmas Zoo.
“Jadi nanti selain rekreasi dan edukasi di kebun binatang, para pengunjung juga bisa mendapatkan story telling tentang tokoh Selamanik yang memiliki kaitan dengan Sunan Giri dan penyebaran Islam di Banjarnegara, juga Bendungan Bandjar Tjahjana Werken yang pada masanya merupakan mega proyek irigasi era kolonial. Bahkan sampai sekarang saluran irigasinya pun masih digunakan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinparbud Banjarnegara Kuat Herry Isnanto menyebutkan bahwa, Cagar Budaya merupakan salah satu instrumen penilaian Indeks Pemajuan Kebudayaan (IPK).
“Jadi ke depan, di tengah keterbatasan anggaran, akan coba kita optimalkan keberadaannya. Masyarakat di sekitar Cagar Budaya juga harapannya turut mendukung dalam upaya pelestarian dan juga pemanfaatan Cagar Budaya agar memiliki dampak ekonomi dan edukasi untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.