
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Festival Gunung Slamet (FGS) #9 tahun 2026 menghadirkan konsep baru yang menjadi pembeda dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya festival hanya menghadirkan Pentas Seni Lingkar Slamet, tahun ini panitia memperluas kolaborasi melalui Pentas Seni Lintas Kabupaten dengan mengundang peserta seni dari berbagai daerah di Jawa Tengah hingga luar provinsi.
Konsep tersebut menjadi salah satu inovasi yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas Festival Gunung Slamet sebagai agenda wisata budaya unggulan Kabupaten Purbalingga.
Pulung, panitia Festival Gunung Slamet menjelaskan, perubahan konsep tersebut dilakukan untuk memperluas jejaring kerja sama antardaerah sekaligus memperkenalkan budaya dari berbagai wilayah kepada masyarakat.
“Tahun kemarin ada Lingkar Slamet, yang tahun ini kita sebut dengan Lintas Kabupaten. Kenapa? Ini sebuah bentuk kolaborasi Festival Gunung Slamet dengan kabupaten-kabupaten,” ujarnya.
Dia menyebutkan peserta Pentas Seni Lintas Kabupaten berasal dari berbagai daerah, mulai dari Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kalau dari luar Jawa Tengah ada Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau yang dari Provinsi Jawa Tengah sendiri itu dari Kabupaten Kendal, Semarang, Pemalang, Banyumas, dan Purbalingga,” jelasnya.
Kehadiran berbagai daerah tersebut diharapkan semakin memperkaya pertunjukan seni dan budaya selama Festival Gunung Slamet berlangsung.
Selain menghadirkan kolaborasi budaya yang lebih luas, Festival Gunung Slamet 2026 tetap mempertahankan sejumlah tradisi yang menjadi identitas masyarakat Desa Wisata Serang.
Salah satunya adalah prosesi pengambilan Air Sikopyah dari sumber mata air yang sebelumnya telah didoakan. Air tersebut kemudian dibawa menuju venue utama di Lembah Asri untuk prosesi penuangan dan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas anugerah alam.
Pengunjung juga dapat menikmati nasi 3G, makanan khas Desa Wisata Serang yang berbahan dasar beras jagung. Kuliner tradisional tersebut disajikan dengan tiga lauk khas, yaitu tempe gundil, sayur gandul berbahan pepaya muda, serta gereh atau ikan asin.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya sekaligus kuliner khas masyarakat lereng Gunung Slamet kepada wisatawan.
Dengan berbagai inovasi yang dihadirkan pada Festival Gunung Slamet #9, panitia berharap kualitas penyelenggaraan festival terus meningkat setiap tahunnya.
Festival tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya lokal, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata dan UMKM.
“Harapannya Festival Gunung Slamet selanjutnya bisa masuk Top 10 Karisma Event Nusantara,” ujar Pulung.
Target tersebut menjadi motivasi bagi panitia untuk terus menghadirkan konsep yang lebih kreatif, memperkuat kolaborasi lintas daerah, serta mempertahankan kearifan lokal yang menjadi identitas Festival Gunung Slamet.