
SERAYUNEWS- Dunia kembali berada di titik genting. Ketegangan geopolitik global yang terus meningkat membuat isu Perang Dunia III tak lagi terdengar seperti teori konspirasi, melainkan skenario nyata yang mulai diperhitungkan oleh para pemimpin dan pakar keamanan internasional.
Dari Eropa hingga Indo-Pasifik, konflik bersenjata, perang dagang, hingga perebutan wilayah strategis menciptakan efek domino yang berbahaya.
Ambisi Amerika Serikat untuk memperluas pengaruhnya, termasuk klaim kontroversial terhadap Greenland, memicu reaksi keras dari Eropa, Rusia, dan China.
Situasi ini memperlihatkan pola klasik menjelang perang besar: unjuk kekuatan militer, pembentukan blok politik, serta narasi keamanan nasional yang saling bertabrakan. Dunia seolah bergerak mundur ke fase pra-Perang Dunia.
Di tengah pusaran global Indonesia berada pada posisi strategis sekaligus rentan. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan terdampak langsung jika Perang Dunia III pecah, atau justru menjadi salah satu negara paling aman?
Dan mengapa peringatan dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, kembali relevan meski ia telah lama lengser dari kekuasaan? Berikut ini Serayunews merangkum informasi dari beberapa sumber secara komprehensif.
Klaim sepihak Amerika Serikat atas Greenland menjadi simbol perubahan perilaku politik global. Wilayah yang selama ini berada di bawah kedaulatan Denmark tiba-tiba masuk dalam narasi keamanan nasional Washington.
Dalihnya klasik: ancaman Rusia dan China di kawasan Arktik yang kaya sumber daya dan strategis secara militer.
Langkah ini bukan sekadar manuver politik, melainkan sinyal keras bahwa hukum internasional mulai kehilangan daya paksa ketika berhadapan dengan negara adidaya.
Jika praktik ini dibiarkan, preseden berbahaya akan tercipta dan membuka ruang konflik terbuka antarblok kekuatan dunia.
Reaksi keras Uni Eropa menunjukkan bahwa dunia Barat sendiri mulai retak. Penolakan terhadap tekanan ekonomi dan klaim wilayah AS menandai pergeseran relasi trans-Atlantik yang selama ini relatif stabil.
Rusia dan China memanfaatkan situasi ini untuk memperluas pengaruhnya, terutama di kawasan yang selama ini dianggap netral.
Polarisasi global semakin nyata. Negara-negara dipaksa memilih posisi, sementara ruang diplomasi menyempit. Kondisi ini mengingatkan dunia pada dinamika sebelum Perang Dunia I dan II, ketika aliansi dan kepentingan ekonomi menjadi bahan bakar konflik besar.
Susilo Bambang Yudhoyono secara terbuka menyatakan bahwa situasi geopolitik global saat ini sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan tanda-tanda dunia bisa menuju konflik besar seperti Perang Dunia III jika ketegangan global terus dibiarkan tanpa upaya serius untuk meredamnya.
Dalam cuitan di akun X pribadinya @SBYudhoyono, ia menulis bahwa selama tiga tahun terakhir ia mengikuti perkembangan dunia, terutama dinamika global yang semakin memanas.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun mempelajari geopolitik, dirinya merasa cemas dan khawatir dengan kemungkinan terjadinya prahara besar berupa Perang Dunia III jika kondisi terus berlanjut tanpa solusi.
SBY menilai ada kemiripan situasi dunia saat ini dengan kondisi menjelang Perang Dunia I dan II, karena banyak negara besar menunjukkan perilaku agresif, ketegangan tinggi, serta diplomasi yang semakin terpecah.
Ia memperingatkan bahwa ketidakpedulian dan konflik yang tak selesai bisa berujung pada peperangan besar lagi, seperti yang tercatat dalam sejarah.
Dalam pidatonya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, SBY juga mengatakan secara tegas bahwa World War III sangat mungkin terjadi jika persaingan dan konflik kekuatan besar dibiarkan tanpa tekanan serius dari komunitas internasional.
Ia menegaskan, “This one has to stop, World War III sangat mungkin terjadi, sangat mungkin.” SBY menegaskan Perang Dunia III bukan kepastian, melainkan ancaman nyata yang masih bisa dicegah.
Ia menekankan pentingnya diplomasi, kerja sama, dan penyelesaian konflik antarnegara. Pesan SBY adalah alarm dini, bukan ramalan takdir yang menakut-nakuti dunia.
Ia mengingatkan waktu pencegahan semakin sempit jika konflik terus dibiarkan. SBY juga mendesak PBB dan para pemimpin dunia bertindak kolektif, bukan bersikap pasif.
Kawasan Indo-Pasifik kini menjadi pusat perhatian dunia. Jalur perdagangan vital seperti Selat Malaka dan Laut Cina Selatan menjadikan wilayah ini sangat strategis.
Ketegangan antara China, Taiwan, Jepang, dan Amerika Serikat berpotensi menyeret negara-negara Asia Tenggara ke dalam konflik yang lebih luas.
Indonesia, sebagai poros Indo-Pasifik, tidak mungkin sepenuhnya netral secara pasif. Setiap eskalasi konflik di kawasan ini akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi, keamanan laut, dan ketahanan nasional Indonesia.
Secara militer dan geografis, Indonesia relatif aman dari serangan langsung jika Perang Dunia III pecah. Indonesia tidak berada dalam aliansi militer agresif, bukan target utama konflik adidaya, serta menganut politik luar negeri bebas aktif yang menghindari keterlibatan blok perang.
Faktor ini membuat Indonesia kecil kemungkinan menjadi medan tempur terbuka. Namun Indonesia tetap rentan, terutama dari dampak tidak langsung Perang Dunia III, yaitu:
1. Gangguan rantai pasok global dan perdagangan internasional
2. Lonjakan harga energi dan pangan
3. Tekanan ekonomi dan nilai tukar
4. Serangan siber dan perang informasi
5. Instabilitas kawasan Indo-Pasifik yang memengaruhi keamanan nasional
Selain itu, ancaman terbesar justru datang dari perang non-militer, seperti serangan siber, disinformasi, tekanan ekonomi, dan instabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Artinya, Indonesia mungkin aman dari bom dan rudal, tetapi tidak sepenuhnya aman dari dampak Perang Dunia III versi modern.
Doktrin politik luar negeri bebas aktif Indonesia kembali diuji. Di tengah dunia yang semakin keras, netralitas tidak cukup jika tidak disertai kekuatan nyata. Indonesia perlu menafsirkan ulang bebas aktif sebagai strategi aktif menjaga kepentingan nasional, bukan sekadar menjaga jarak.
Penguatan diplomasi harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas pertahanan dan ketahanan ekonomi. Tanpa itu, bebas aktif berisiko berubah menjadi posisi pasif yang rentan ditekan kekuatan besar.
Perang modern tidak lagi hanya soal tank dan rudal. Serangan siber, perang informasi, dan sabotase ekonomi menjadi senjata utama. Indonesia harus memperkuat pertahanan terintegrasi yang melibatkan militer, intelijen, dan keamanan digital.
Investasi pada teknologi pertahanan dan peningkatan kualitas SDM menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam lanskap keamanan global yang berubah cepat.
Bayang-bayang Perang Dunia III bukan lagi sekadar isu akademik atau wacana elite global. Dinamika geopolitik saat ini menunjukkan bahwa dunia berada di fase rawan kesalahan strategis. Indonesia tidak bisa berpangku tangan dengan asumsi aman karena jauh dari konflik.
Peringatan SBY, ketegangan global, serta perubahan peta kekuatan dunia harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat diri. Bukan untuk berperang, tetapi agar tidak menjadi korban ketika dunia gagal menjaga perdamaian.