
SERAYUNEWS – Upaya menjaga kelestarian pesisir Cilacap terus digencarkan. Sebanyak 6.600 bibit mangrove ditanam di kawasan pesisir Sungai Tipar, Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Selasa (27/1/2026).
Kegiatan ini melibatkan sekitar 100 orang dari berbagai unsur, mulai dari masyarakat, pelajar, lembaga lingkungan, hingga instansi pemerintah.
Penanaman mangrove tersebut dilakukan di lahan seluas kurang lebih 2 hektare dan menjadi bagian dari rehabilitasi ekosistem pesisir yang diinisiasi Lembaga Perlindungan Pesisir dan Pantai Karangbenda (LP3K).
Kegiatan ini sekaligus merupakan implementasi Program SOLUSI yang fokus pada perbaikan lanskap daratan di wilayah hulu dan pesisir di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu.
Program SOLUSI sendiri merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman. Program ini dijalankan oleh konsorsium yang terdiri dari GIZ, Yayasan Kehati, SNV, dan ICRAF, dan dilaksanakan di empat provinsi, termasuk Jawa Tengah dengan lokasi kegiatan di Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan Kebumen.
Dalam kegiatan rehabilitasi pesisir di Karangbenda, ditanam tiga jenis mangrove, yakni Rhizophora mucronata (bakau), Avicennia marina (api-api), dan Bruguiera gymnorhiza (tancang). Seluruh bibit mangrove tersebut merupakan hasil persemaian kelompok LP3K yang juga dibina melalui Program SOLUSI.
Kegiatan penanaman diikuti oleh berbagai pihak, antara lain BKSDA Jawa Tengah Wilayah Cilacap, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah VI Jawa Tengah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cilacap, BPBD Kabupaten Cilacap, PT Indonesia Power, unsur Muspika Adipala, Pemerintah Desa Karangbenda, Yayasan Semesta Alam Sejati, ARuPA, hingga pelajar SD dan SMP di wilayah Karangbenda dan Adipala.
Kepala Desa Karangbenda, Sakino, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan ARuPA dan Yayasan Kehati kepada kelompok LP3K melalui Program SOLUSI.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjaga lingkungan pesisir agar lebih lestari dan terlindungi,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan penanaman mangrove ini merupakan tahun pertama dari rangkaian Program SOLUSI yang akan berjalan selama tiga tahun di Cilacap.
Direktur Eksekutif ARuPA, Edi Suprapto, berharap mangrove yang telah ditanam dapat dirawat dan dikelola secara berkelanjutan.
“Selain penanaman, kami juga mendorong agar pembibitan mangrove terus dilanjutkan supaya kebutuhan bibit ke depan bisa terpenuhi,” katanya.
Ia menambahkan, pada 2026 Program SOLUSI di Cilacap akan lebih difokuskan pada pengelolaan sampah terpadu di tingkat desa.
Sementara itu, Kepala Resort Cilacap BKSDA Jawa Tengah, Wahyono, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan penanaman mangrove di kawasan TWA Gunung Selok.
“Penanaman mangrove ini menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah abrasi dan menjaga ekosistem pesisir,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Daroso dari CDK Wilayah VI Jawa Tengah. Ia berharap kegiatan rehabilitasi mangrove di Cilacap dapat terus berlanjut dan dilakukan secara berkesinambungan demi menjaga kelestarian lingkungan pesisir.