
SERAYUNEWS – Puluhan wali murid SD Negeri 4 Krandengan, Kabupaten Banjarnegara, menggelar aksi protes terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menutup gerbang sekolah, Senin (26/1/2026) pagi.
Aksi ini dipicu temuan makanan tidak layak konsumsi dalam paket MBG yang dibagikan kepada siswa.
Dalam aksi tersebut, para orang tua membentangkan poster dan menutup akses masuk saat kendaraan pengantar MBG tiba di lingkungan sekolah. Mereka menuntut perbaikan kualitas dan keamanan pangan demi kesehatan anak-anak.
Koordinator aksi, Erlin, menyebutkan protes ini merupakan puncak kekecewaan setelah berbagai keluhan sebelumnya tidak mendapat respons memadai.
Ia menilai makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Semarangkidul jauh dari standar kebersihan.
“Keluhan sudah berkali-kali kami sampaikan. Mulai dari temuan keong, lalat, makanan basi, buah busuk, bahkan ketupat yang masih terbungkus plastik ikut disajikan ke anak-anak. Ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Erlin.
Para wali murid juga mengeluhkan minimnya transparansi terkait menu harian dan kandungan gizi makanan yang diterima siswa.
Erlin menegaskan para orang tua tidak menolak program pemerintah, namun menolak kualitas layanan penyedia yang dinilai membahayakan kesehatan anak.
“Anak-anak kami jangan dijadikan ajang bisnis. Kalau memang bersih dan bergizi, tentu kami mendukung. Tapi kalau kondisinya seperti ini, kami minta SPPG dievaluasi total atau diganti,” katanya.
Sikap serupa disampaikan Fani, wali murid lainnya. Ia menyebut para orang tua sepakat menolak sementara distribusi MBG dari SPPG Semarangkidul hingga ada jaminan keamanan pangan.
“Kami sepakat menolak jatah MBG dari penyedia tersebut. Kami minta pemerintah segera mencarikan penyedia lain yang benar-benar memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak-anak,” ujarnya.
Menanggapi aksi tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung turun ke lokasi untuk melakukan mediasi dengan wali murid dan pihak sekolah.
Koordinator Wilayah BGN Banjarnegara, Irma Lusita, memastikan evaluasi ketat akan dilakukan terhadap seluruh penyedia MBG, khususnya SPPG Semarangkidul.
“Kami akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Mulai dari pemilihan bahan makanan, penyusunan menu, proses pengolahan, hingga kebersihan pengemasan. Jika ke depan masih ditemukan pelanggaran, tentu akan ada langkah tegas,” ujar Irma.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di SDN 4 Krandengan dilaporkan telah kembali kondusif setelah dilakukan audiensi antara wali murid, pihak sekolah, dan perwakilan BGN.
Meski demikian, para orang tua menegaskan akan kembali melakukan aksi serupa apabila tidak ada perbaikan nyata terhadap kualitas dan keamanan makanan MBG yang diterima siswa dalam waktu dekat.