Rambut Gimbal, Anak Ini Minta Uang Setampah Sebelum Ritual

Sebelum Ritual di Dieng, Anak Rambut Gimbal Ini Minta Uang Satu Tampah

Bagikan:
Rambut gimbal
Prosesi pemotongan rambut gimbal secara mandiri, Minggu (9/7/2023). (Foto: maula/Serayunews)

SERAYUNEWS-Meski tidak ada Dieng Culture Festival (DCF), prosesi ritual pemotongan rambut gimbal bagi anak bajang tetap berlangsung. Hal itu seperti yang terjadi pada, Minggu (9/7/2023).

Tradisi ritual pemotongan rambut gimbal di dataran tinggi Dieng ini sudah terjadi sejak turun temurun. Kepercayaannya, anak bajang atau anak yang memiliki rambut gimbal tersebut merupakan titisan dari KI Kolodete. Ki Kodolete merupakan leluhur yang juga penguasa dataran tinggi itu di masa lampau.

Maka tak heran, jika anak bajang ini menjadi istimewa. Bahkan saat akan pemotongan rambut gimbalnya, permintaan anak bajang ini harus terpenuhi. Tak jarang, permintaan unik kerap muncul dari anak bajang sebelum pemotongan rambutnya.

Seperti yang terjadi saat ritual pemotongan rambut gimbal Diandra Agatha (10) warga Tegal yang masih memiliki keturunan Dieng ini. Dia meminta persyaratan sebelum pemotongan rambut gimbalnya. Dia meminta uang yang banyak satu tampah dan menonton pagelaran seni lengger.

Hal ini pun harus orangtua penuhi. Sebab jika orangtua tidak memenuhi permintaan ini, maka rambut gembel pada anak tersebut akan kembali tumbuh. Sebelum tumbuhnya rambut gembel tersebut, di anak akan mengalami demam tinggi.

Selain itu, sebelum pemotongan rambut, pihak keluarga akan menyiapkan 7 tumpeng aneka warna, jajanan pasar, hingga makanan kesukaan dari anak gembel tersebut. Jika semua persyaratan sudah lengkap, prosesi berlanjut dengan doa dan pemotongan rambut oleh sesepuh desa.

Tak Ada DCF

Kepala Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur Banjarnegara Slamet mengatakan, biasanya kegiatan pemotongan rambut gimbal ini berlangsung dalam promosi wisata DCF. Namun karena tahun ini tidak ada, maka prosesi tetap bisa berjalan sesuai dengan tradisi dan budaya yang ada.

“Biasanya dalam DCF, tetapi karena tahun ini tak ada, maka prosesi mandiri dan hanya keluarga yang hadir,” ujarnya.

Sementara itu, sang anak bajang Agatha mengaku permintaan uang satu tampah ini ingin dia belikan pakan kucing. Dia ingin memberikan makanan pada kucing liar yang banyak berkeliaran di desanya.

Tahun ini memang tidak ada DCF. Acara tahunan itu tak ada karena ada renovasi di tempat wisata andalan Banjarnegara tersebut. Biasanya acara DCF selalu menyedot perhatian dan wisatawan. Salah satu prosesi rutin dalam DCF adalah pemotongan rambut anak-anak yang berambut gimbal.

Acara DCF pernah mengalami saat pandemi. Kala pandemi prosesi DCF ada banyak pembatasan. Sebab di masa itu ada pembatasan agar tak ada kerumunan.


© 2016 Serayu News