
SERAYUNEWS — Sejumlah relawan lingkungan di Kabupaten Banyumas mengajak masyarakat menggelar aksi bersih-bersih sungai pascabencana alam yang menyebabkan pendangkalan di sejumlah aliran sungai akibat material kiriman dari kawasan Gunung Slamet.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Relawan Aksi Bersih-Bersih “Kaline Dhewek” di bawah naungan Humanity Volunteer (BHV) sebagai langkah mitigasi awal untuk menekan potensi bencana susulan di wilayah Banyumas.
Salah satu relawan, Ki Topo, mengatakan aksi bersih sungai tersebut bertujuan untuk mengurangi potensi bencana susulan, mengingat intensitas hujan di wilayah puncak Gunung Slamet masih tergolong tinggi.
“Tujuan utama kita adalah mengurangi dampak yang nantinya berpotensi menimbulkan bencana susulan. Jika hujan deras kembali terjadi, dikhawatirkan material dari Gunung Slamet bisa berdampak lebih besar ke wilayah Banyumas,” ujar Ki Topo.
Ki Topo menjelaskan, material kiriman seperti pasir, kayu, dan sampah yang terbawa arus berisiko menghambat aliran sungai dan memicu luapan.
Oleh karena itu, relawan bersama masyarakat akan memprioritaskan pembersihan material nonpasir yang berpotensi menyumbat jalur air.
“Kalau material pasir di sungai, masyarakat sementara bisa mengambil terlebih dahulu. Namun untuk material seperti kayu, ranting, dan sampah, akan kami bersihkan bersama relawan. Harapannya, saat hujan susulan turun, aliran sungai tetap lancar dan tidak meluap,” ujarnya.
Aksi “Kaline Dhewek” Digelar di Curug Bayan
Berdasarkan informasi dalam poster kegiatan, aksi bertajuk “Aksi Bersih-Bersih Kaline Dhewek” akan dilaksanakan pada Minggu, 1 Februari 2026.
Kegiatan dipusatkan di Curug Bayan dengan titik kumpul mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.
Aksi bersih sungai ini terbuka untuk umum. Seluruh relawan dan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dipersilakan ikut ambil bagian dalam gerakan gotong royong menjaga kelestarian sungai di Banyumas.
Melalui kegiatan tersebut, relawan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan sungai semakin meningkat, sekaligus menjadi langkah mitigasi awal dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di Kabupaten Banyumas.
“Ini bukan hanya soal bersih-bersih, tapi juga tentang kepedulian bersama untuk menjaga lingkungan kita sendiri,” katanya.