
SERAYUNEWS- Bursa saham Indonesia sedang mendapat tekanan tajam setelah MSCI, penyedia indeks global terkemuka, mengambil langkah tak biasa terhadap saham–saham lokal.
Keputusan ini memicu gejolak pasar serta kekhawatiran para investor institusional maupun ritel. MSCI memperingatkan bahwa Indonesia bisa turun status dari emerging market menjadi frontier market jika masalah transparansi tak segera diperbaiki.
Pernyataan ini ikut membuat investor asing menarik dana dan memicu penurunan tajam indeks saham domestik. Selain itu, beberapa saham besar yang biasanya ada di dalam indeks MSCI kini tidak lagi masuk ke dalam daftar, sementara perubahan metode penilaian free float menjadi sorotan utama.
Hal ini membuat investor harus lebih selektif memahami dinamika pasar modal Indonesia. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
MSCI (Morgan Stanley Capital International) adalah penyedia indeks yang menjadi tolok ukur global untuk investasi institusional, mencakup dana pensiun, reksa dana, dan dana indeks statis besar.
Indeks ini sering jadi acuan untuk investasi asing di pasar negara berkembang. Ketika MSCI meninjau daftar sahamnya, penyesuaian seperti penambahan atau pengurangan perusahaan menentukan arus investasi asing.
Saham yang dikeluarkan dari daftar berpotensi mengalami pressure jual karena dana indeks mungkin menjual kepemilikan mereka.
Review MSCI biasanya dilakukan setiap enam bulan dan mempengaruhi tiga kategori utama indeks: Global Standard, Small Cap, dan Investable Market Indexes (IMI).
Berikut sejumlah saham Indonesia yang tidak lagi masuk atau mengalami perubahan status pada indeks MSCI berdasarkan peninjauan terbaru dan tahun 2025–2026:
1. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) – Tidak lagi di MSCI Global Standard Index.
2. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) – Juga keluar dari MSCI Global Standard Index.
3. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) – Dikeluarkan atau posisinya turun di MSCI Small Cap.
4. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) – Tidak lagi berada di Small Cap Index.
5. PT Panin Life Tbk (PNLF) – Saham ini keluar dari Small Cap Index.
MSCI biasanya mengevaluasi perusahaan berdasarkan kriteria objektif seperti free float, likuiditas, dan keterbukaan data. Berikut alasan utama yang dijadikan dasar:
1. Rendahnya Free Float – Saham dengan persentase saham mengambang rendah dinilai kurang likuid dan kurang menarik bagi investor institusional.
2. Transparansi Kepemilikan Saham – Struktur kepemilikan tidak transparan membuat penilaian risiko menjadi sulit.
3. Kurangnya Data yang Konsisten – Ketersediaan data free float yang kurang rinci mendorong MSCI melakukan pembekuan perubahan.
4. Faktor Investabilitas – MSCI mempertimbangkan apakah saham benar–benar dapat diperdagangkan secara bebas oleh investor global.
5. Potensi Penurunan Status Pasar – MSCI khawatir kalau regulasi tidak meningkat, Indonesia bisa turun ke pasar frontier, yang biasa dianggap kurang likuid dan menarik.
Pengumuman perubahan MSCI memaksa pasar Indonesia mengalami volatilitas tinggi, termasuk perlunya penyesuaian strategi oleh investor:
1. Indeks saham turun tajam dan volatitas meningkat.
2. Investor asing melakukan rebalancing atau penjualan untuk menyesuaikan portofolio.
3. Perusahaan yang keluar dari list MSCI cenderung mengalami tekanan saham.
Investasi jangka panjang tetap menarik jika kamu memahami dasar fundamental saham. Berikut tips memilih saham yang aman untuk jangka panjang:
1. Pilih saham dengan free float tinggi – Mudah diperdagangkan dan lebih stabil.
Contoh: BBCA (Bank Central Asia) – Likuiditas tinggi dan dominasi pasar.
2. Perusahaan dengan fundamental kuat – Pendapatan dan laba konsisten.
Contoh: UNVR (Unilever Indonesia) – Konsisten di sektor konsumsi.
3. Sektor defensif – Relatif stabil saat pasar volatile.
Contoh: TLKM (Telkom Indonesia) – Sektor telekomunikasi.
4. Perhatikan manajemen dan tata kelola perusahaan – Transparansi penting.
Contoh: SMGR (Semen Indonesia) – Struktur kepemilikan lebih jelas.
5. Hindari saham sangat terkonsentrasi – Kepemilikan yang besar dipegang kurang publik bisa jadi risiko.
Pihak berwenang kini sedang menanggapi kritik indeks global dengan memperbaiki transparansi pasar:
1. Otoritas bursa meningkatkan keterbukaan data kepemilikan saham.
2. MSCI diberikan tenggat hingga Mei 2026 untuk melihat perbaikan.
Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk lebih mencermati faktor fundamental dan transparansi perusahaan.
Perubahan ini memang bisa memicu volatilitas jangka pendek, namun juga membuka ruang evaluasi bagi emiten dan regulator untuk memperbaiki kualitas pasar modal nasional.
Bagi investor, momentum ini sebaiknya dimanfaatkan untuk menyusun strategi investasi yang lebih selektif dan berorientasi jangka panjang.
Fokus pada saham berfundamental kuat, likuid, dan memiliki tata kelola baik dapat membantu meminimalkan risiko sekaligus menjaga potensi imbal hasil yang lebih stabil.