Jumat, 9 Desember 2022

Satu-Satunya di Jateng, Owabong Purbalingga Jadi Objek Wisata Percontohan Penggunaan Tiga Bahasa

Papan informasi di Owabong Purbalingga menggunakan tiga bahasa. Masing-masing bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa Inggris. (Joko Santoso/Serayunews)

Objek Wisata Air Bojongsari (Owabong) di Desa Bojongsari Kecamatan Bojongsari, Purbalingga ditunjuk oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (Jateng) sebagai objek wisata percontohan yang menggunakan tiga bahasa. Masing-masing bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris.


Purbalingga, serayunews.com

“Ini menjadi kehormatan bagi kami. Karena penunjukan dilakukan oleh Balai Bahasa Jateng. Mereka juga akan memberikan pendampingan kepada kami terkait penggunaan tiga bahasa tersebut hingga tahun 2024 mendatang,” kata Plt Direktur Utama (Dirut) Owabong, Eko Susilo, didampingi Manager Hotel Owabong Abdi Legowo, kepada serayunews.com, Kamis (24/11/2022).

Latar belakang penunjukan oleh Balai Bahasa Jateng tersebut dikarenakan selama ini memang Owabong konsisten menggunakan tiga bahasa untuk memberikan informasi kepada pengunjung. Mulai dari petunjuk pintu masuk, serta berbagai hal yang ada di objek wisata milik Pemkab Purbalingga tersebut ditulis dengan tiga bahasa.

“Masing-masing bahasa Indonesia, bahasa Jawa Banyumasan dan bahasa Inggris,” ungkapnya.

Dia menyampaikan, Kepala Balai Bahasa Jateng Ganjar Harimansyah juga hadir langsung untuk menyampaikan informasi penunjukan Owabong sebagai objek wisata yang menggunakan tiga bahasa tersebut. Menurutnya ini menjadi kehormatan bagi Owabong.

“Karena kami menjadi satu satunya objek wisata di Jateng yang dijadikan percontohan,” katanya lagi.

Sebelumnya Hotel Owabong juga telah mendapatkan penghargaan Prasidatama tahun 2022 dari Balai Bahasa Jateng sebagai hotel yang menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Menanggapi penunjukan Owabong sebagai objek wisata percontohan yang menggunakan tiga bahasa, Kepala Balai Bahasa Jateng Ganjar Harimansyah mengatakan pihaknya akan terus memberikan pendampingan.

“Kami berharap nantinya pengelola objek wisata bisa menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, juga menggunakan bahasa Inggris dan bahasa daerah dalam memberikan informasi. Sehingga pengunjung dari berbagai latar belakang bisa memahami berbagai informasi yang disampaikan,” tuturnya.

Berita Terpopuler

Berita Terkini