
SERAYUNEWS-Kekayaan sejarah di Banjarnegara dinilai masih banyak tersembunyi di rumah-rumah warga. Filolog sekaligus Guru Besar Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Sugeng Priyadi, mengingatkan pentingnya penyelamatan naskah kuno sebelum hilang dan musnah dimakan zaman.
Hal itu disampaikan Prof Sugeng dalam Sosialisasi Penelusuran dan Inventarisasi Naskah Kuno bersama 50 pegiat literasi Banjarnegara di Aula Niscala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Banjarnegara.
Menurutnya, Banjarnegara memiliki sejarah panjang sebagai wilayah penghasil naskah dan penulis babad di kawasan Banyumas Raya.
“Banjarnegara pada masa lalu bisa disebut sebagai skriptorium raksasa. Banyak penulis babad Banyumas berasal dari wilayah ini,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Prof Sugeng mengungkapkan dirinya telah mengumpulkan lebih dari 101 naskah babad Banyumas, dan sebagian besar di antaranya berasal dari Banjarnegara. Ia meyakini masih banyak naskah kuno lain yang hingga kini tersimpan secara pribadi di masyarakat.
Karena itu, ia meminta para pegiat budaya segera melakukan penelusuran sebelum naskah-naskah tersebut hilang bersama para pemiliknya.
“Saya yakin masih banyak babad yang tersimpan di masyarakat. Ini harus segera ditelusuri sebelum pemiliknya meninggal dan naskahnya ikut musnah,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa proses penelusuran harus dilakukan dengan pendekatan yang baik agar pemilik naskah bersedia membuka akses kepada peneliti maupun pegiat budaya.
Menurutnya, kejujuran dan sikap menghargai pemilik naskah menjadi kunci utama dalam proses inventarisasi.
“Jangan sampai terkesan mencurigakan atau komersial. Penelusur harus jujur dan menghormati keinginan pemilik babad,” katanya.
Prof Sugeng mengingatkan inventarisasi harus dilakukan secepat mungkin ketika ada informasi mengenai keberadaan naskah kuno.
“Begitu ada informasi, segera diinventarisasi. Jangan menunggu terlalu lama karena sangat rawan hilang atau rusak,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh pendidikan yang juga mantan Wakil Bupati Banjarnegara Syamsudin, mengajak masyarakat untuk mulai bangkit menjaga warisan sejarah daerah.
Ia menilai banyak sejarah besar Banjarnegara yang belum dikenal luas karena minimnya kajian terhadap naskah kuno yang tersimpan di masyarakat.
“Ayo nglilir atau bangun dari tidur. Jangan sampai sejarah hebat para pendahulu kita terlupakan,” ujarnya.
Syamsudin juga berharap para pemilik babad tidak ragu membuka akses terhadap naskah yang dimiliki agar dapat dikaji secara ilmiah dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Banjarnegara, Arief Rahman, mengatakan hingga kini masih banyak naskah kuno yang belum masuk dalam pendataan resmi pemerintah daerah.
Menurutnya, kondisi itu terjadi karena sebagian besar naskah masih tersimpan di rumah warga dan belum dianggap memiliki nilai penting.
“Penelusuran ini bertujuan memetakan, menginventarisasi, sekaligus membangun basis data naskah kuno di Banjarnegara,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian manuskrip kuno sebagai bagian dari identitas sejarah daerah.
Salah satu peserta kegiatan, Ki Giri Sarono, menyambut positif sosialisasi tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ini penting untuk membuka wawasan masyarakat mengenai nilai sejarah yang tersimpan dalam naskah kuno.
Menurutnya, banyak manuskrip berharga yang selama ini hanya disimpan secara pribadi tanpa pernah diteliti ataupun dikenalkan kepada generasi muda.