
SERAYUNEWS — Usai pemecatan Ruben Amorim, Manchester United langsung dihadapkan pada satu pertanyaan besar: siapa sosok paling tepat untuk menangani Setan Merah? Sejumlah nama pelatih papan atas mulai dikaitkan, salah satunya Jose Mourinho, pelatih yang pernah menukangi Manchester United pada periode 2016–2018.
Pelatih asal Portugal yang kini disebut tengah menukangi Benfica itu dinilai sejumlah pihak sebagai figur yang cocok untuk menggantikan Amorim, terutama di tengah kondisi Manchester United yang puasa gelar dalam beberapa musim terakhir.
Julukan The Special One bukan tanpa alasan. Mourinho dikenal sebagai manajer yang kerap menghadirkan trofi di setiap klub yang ia tangani. Meski gaya permainannya sering dianggap terlalu pragmatis dengan skema “parkir bus”, Mourinho terbukti mampu membangun tim yang solid, disiplin, dan sulit dikalahkan.
Selain prestasi, kepemimpinan Mourinho juga dianggap sebagai nilai lebih. Ia dikenal mampu mengendalikan ruang ganti, bahkan pemain-pemain bintang. Salah satu kisah yang kerap disebut adalah saat Cristiano Ronaldo dikabarkan pernah dibuat menangis ketika ditegur Mourinho saat masih melatih Real Madrid. Hal inilah yang membuat Mourinho dianggap cocok untuk menertibkan ruang ganti Manchester United.
Namun, bukan hanya Mourinho yang masuk radar. Pakar transfer Eropa Fabrizio Romano menyebut nama Ole Gunnar Solskjaer juga masuk dalam daftar kandidat pelatih Setan Merah. Bahkan, Romano mengungkapkan bahwa Solskjaer memiliki ketertarikan besar untuk kembali menukangi klub yang pernah dibelanya tersebut.
Saat ini, Manchester United masih dipimpin oleh manajer interim Darren Fletcher, sembari manajemen menyusun langkah jangka panjang.
Sejumlah pengamat menilai pemecatan Ruben Amorim bukan semata akibat hasil minor Manchester United di Liga Inggris. Ada dugaan kuat persoalan internal dengan pihak manajemen yang turut menjadi pemicu.
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Amorim dalam konferensi pers beberapa waktu lalu, di mana ia menyindir bahwa dirinya didatangkan bukan sebagai manajer, melainkan hanya sebagai pelatih.
Kondisi itu disebut membuat Amorim tidak leluasa dalam mengatur tim. Bahkan, skema andalannya 3-4-3 disebut kerap mendapat intervensi dan kritik dari manajemen, yang seharusnya memberikan dukungan penuh. Situasi inilah yang akhirnya memicu keretakan hingga berujung pemecatan.