
SERAYUNEWS-Tanggal 10 Ramadan merupakan satu moment penting bagi keluarga besar Syarikat Islam (SI). Di tanggal tersebut merupakan tanggal okoh pergerakan nasional, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau HOS Cokroaminoto wafat.
Untuk mengenang hari wafatnya HOS Tjokroaminoto, keluarga Syarikat Islam Banjarnegara menggelar haul akbar yang dirangkai dengan berbagai kegiatan. Kegiatan mulai dari ziarah makam ke sejumlah tokoh SI Banjarnegara, termasuk melakukan reflektif dan edukatif.
Kegiatan ziarah makam tokoh SI Banjarnegara ini dilaksanakan serentak di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Hal ini dilakukan untuk mengenang kontribusi para pendahulu SI di Banjarnegara, termasuk upaya untuk memperkuat komitmen ideologis organisasi.
Salah satu titik ziarah berlangsung di kompleks makam Pacean, Pungkuran, Gayam. Di lokasi tersebut, pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) SI Banjarnegara berziarah ke makam Oten Pardikin Partoadiwjoyo, Ketua Partai Syarikat Islam Indonesia Kabupaten Banjarnegara era 1930-an. Pada nisannya tertera nama Hadji Oemar Said Partoadiwjoyo, yang disebut-sebut memiliki kedekatan historis dengan Tjokroaminoto, terutama saat sang tokoh kerap singgah ke Banjarnegara.
Ketua DPC SI Banjarnegara, Musobihin, menegaskan bahwa haul bukan sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bagi kader SI sebagai “anak ideologis” Tjokroaminoto.
“Kami ingin kaum SI terus meneladani gagasan kebangsaan beliau. Berpegang pada Reglemen atau Panduan Umat Islam yang beliau susun, serta menjalankan trilogi SI: semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepandai-pandai siasat,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Rangkaian peringatan haul tersebut ditutup dengan sarasehan dan pengajian akbar di MI Cokroaminoto 2 Majalengka, Kecamatan Bawang. Forum diskusi tersebut menghadirkan sejarawan sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Heni Purwono.
Dalam paparannya, Heni mengulas hubungan historis Tjokroaminoto dengan Banjarnegara. Ia menyebut Banjarnegara sebagai salah satu basis awal SI yang strategis. Cabang SI Banjarnegara diresmikan langsung oleh Tjokroaminoto pada 28 Desember 1913 dan berkembang pesat dalam waktu singkat.
“Dalam arsip Kongres SI 1917 di Batavia, keanggotaan SI Banjarnegara tercatat lebih dari sebelas ribu orang di bawah kepemimpinan Haji Ihsan. Di Purwareja Klampok juga berdiri cabang dengan sekitar enam ribu anggota. Angka ini menunjukkan kuatnya pengaruh SI di wilayah perdesaan,” katanya.
Meski memiliki sejarah gemilang, Heni mengingatkan agar SI tidak terjebak pada glorifikasi masa lalu. Menurutnya, warisan sejarah harus dikonversi menjadi energi gerakan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Sejarah adalah aset, tetapi harus dihidupkan melalui gerakan nyata, termasuk penguatan lembaga pendidikan yang dimiliki SI. Organisasi ini punya jaringan hingga pelosok desa. Potensi itu harus dikelola secara dinamis dan kontekstual,” katanya.
Ia juga menyinggung benang merah perjuangan masyarakat Banjarnegara dari masa ke masa, mulai dari perlawanan terhadap VOC hingga era kemerdekaan. Nilai-nilai historis tersebut, kata dia, penting digali kembali untuk memperkuat identitas dan arah gerakan SI ke depan.
Melalui Haul Akbar ini, SI Banjarnegara tidak hanya mengenang sosok Tjokroaminoto sebagai guru bangsa, tetapi juga merefleksikan peran organisasi dalam menjawab tantangan kebangsaan di era modern.