
SERAYUNEWS- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta memastikan bahwa Siklon Tropis NOKAEN telah melemah menjadi Ex-Tropical Cyclone (Ex-TC) NOKAEN.
Berdasarkan pembaruan resmi pada Rabu, 21 Januari 2026 pukul 07.00 WIB, sistem cuaca tersebut terpantau berada di Laut Filipina, tepatnya di sebelah timur laut Manila.
Dengan melemahnya intensitas menjadi kategori Tropical Depression (Low), BMKG menyatakan bahwa laporan ini merupakan informasi terakhir TCWC Jakarta terkait Siklon Tropis NOKAEN.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa dampak tidak langsung dari sisa sistem tersebut masih berpotensi memengaruhi kondisi cuaca dan perairan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam keterangannya, BMKG menjelaskan bahwa Siklon Tropis NOKAEN awalnya tumbuh dari Bibit Siklon Tropis 91W yang terdeteksi sejak 15 Januari 2026. Seiring pergerakannya, sistem ini mengalami peningkatan intensitas sebelum akhirnya melemah secara bertahap.
Pada fase terkininya, struktur awan konvektif NOKAEN mulai terdispersi, kecepatan angin maksimum menurun, dan pusat sirkulasi tidak lagi terorganisasi dengan baik. Kondisi tersebut membuat sistem ini secara resmi diklasifikasikan sebagai Ex-Tropical Cyclone.
Walaupun telah melemah, Ex-TC NOKAEN masih memicu gangguan kondisi laut di wilayah Indonesia bagian timur. BMKG mencatat potensi gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di Samudra Pasifik bagian utara Maluku.
Kondisi gelombang ini masuk dalam kategori Moderate Sea, yang berisiko terhadap aktivitas pelayaran, perikanan, dan transportasi laut, terutama kapal berukuran kecil hingga menengah.
BMKG mengingatkan agar nelayan dan operator kapal meningkatkan kewaspadaan dan mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum berlayar.
Selain NOKAEN, BMKG juga terus memantau Bibit Siklon Tropis 97S yang saat ini berada di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). Bibit siklon ini teridentifikasi sejak 16 Januari 2026 dan masih berada dalam wilayah pemantauan TCWC Jakarta.
Berdasarkan analisis terkini, Bibit Siklon 97S memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam kurun waktu 24 jam ke depan.
Sistem ini bergerak perlahan ke arah barat hingga barat daya, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap cuaca di wilayah sekitarnya.
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S berkontribusi terhadap peningkatan suplai uap air dan dinamika atmosfer di Indonesia bagian tengah dan timur. BMKG memprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, meliputi:
Selain hujan lebat, BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur, yang dapat berdampak pada aktivitas darat, kelautan, dan penerbangan.
Dari sisi kelautan, BMKG mencatat adanya peningkatan tinggi gelombang di beberapa perairan strategis Indonesia. Potensi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter diperkirakan terjadi di:
Sementara itu, gelombang tinggi 2,5 hingga 4,0 meter (Rough Sea) berpotensi terjadi di:
Kondisi ini dinilai sangat berbahaya bagi kapal kecil, perahu nelayan, serta aktivitas bongkar muat di pelabuhan tertentu.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, operator kapal, dan pengguna transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Pemerintah daerah di wilayah terdampak juga diminta untuk mengaktifkan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, terutama di daerah rawan banjir, longsor, dan kecelakaan laut.
BMKG menegaskan bahwa informasi cuaca dapat mengalami perubahan seiring dinamika atmosfer, sehingga masyarakat disarankan untuk terus memantau update resmi dari BMKG melalui kanal komunikasi yang tersedia.
Anda bisa mengakses sumber resmi BMKG – Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta di https://tropicalcyclone.bmkg.go.id
Pantau terus informasi cuaca terkini dan peringatan dini hanya dari BMKG