
SERAYUNEWS – Sejumlah spanduk bernada protes dari para korban dugaan kredit bermasalah PT Bank Mandiri Taspen (Mantap) Cabang Purwokerto mendadak bermunculan di sejumlah titik strategis di Banyumas, Rabu (24/6/2026).
Aksi tersebut dilakukan untuk menarik simpati masyarakat sekaligus mendesak adanya penyelesaian yang dianggap berkeadilan bagi para pensiunan yang terdampak.
Spanduk-spanduk berukuran besar itu terpasang di kawasan Kalibagor, Tanjung, Berkoh, hingga Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto.
Langkah tersebut menjadi bentuk protes para pensiunan yang mengaku mengalami kesulitan ekonomi akibat persoalan kredit yang mereka hadapi.
Salah satu spanduk yang menarik perhatian warga bertuliskan, “Nasabah Bank Mandiri Taspen Bukan Sapi Perah. Dengarkan Jeritan Pensiunan, Berikanlah Kami Keadilan.”
Tulisan tersebut sontak menjadi perbincangan masyarakat yang melintas di lokasi pemasangan.
Korban Mengaku Sudah Kehabisan Kesabaran
Kuasa hukum para korban, H. Djoko Susanto, S.H., mengatakan pemasangan spanduk merupakan bagian dari konsolidasi sekaligus sosialisasi kepada masyarakat menjelang aksi yang lebih besar.
“Kami mengingatkan jangan sampai para nasabah dijadikan tumbal dengan mengatasnamakan oknum demi menyelamatkan korporasi. Banyak pensiunan saat ini hidup di ambang kemiskinan akibat persoalan kredit tersebut,” kata Djoko, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 120 pensiunan lanjut usia yang didampinginya. Mereka tidak lagi ingin sekadar menunggu janji penyelesaian tanpa kepastian.
Djoko mengungkapkan berbagai langkah hukum dan administratif telah ditempuh para korban. Mereka telah mengirimkan somasi terbuka kepada Presiden RI, Komisi VI DPR RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga jajaran direksi Bank Mandiri dan PT Taspen.
Para korban berharap langkah tersebut dapat mendorong penyelesaian yang memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi para nasabah pensiunan.
Jika pemasangan spanduk dan langkah diplomasi tidak membuahkan hasil, para korban mengaku siap menggelar aksi yang lebih besar.
“Mereka siap turun ke jalan, mendatangi kantor bank, bahkan melakukan long march bersama keluarga. Istri, suami, anak hingga cucu siap ikut menyuarakan tuntutan keadilan,” kara Djoko.
Menurutnya, aksi tersebut akan menjadi bentuk perjuangan para pensiunan yang merasa hak-haknya belum mendapatkan kepastian penyelesaian.
Kasus yang menjadi perhatian publik Banyumas ini bermula dari dugaan penyimpangan prosedur kredit yang melibatkan mantan pegawai bank terkait.
Mayoritas korban merupakan pensiunan ASN, guru, hingga purnawirawan Polri. Mereka mengaku sebelumnya mendapat penawaran berbagai program dan kemudahan dari pihak bank.
Namun dalam perjalanannya, dana pensiun bulanan mereka disebut terpotong otomatis untuk membayar cicilan kredit yang bermasalah. Total kerugian kolektif yang dialami para nasabah lanjut usia itu ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Meski sebelumnya pihak bank menyatakan kasus tersebut merupakan ulah oknum individu, para korban menolak jika tanggung jawab hanya dibebankan kepada perseorangan.
Mereka menuntut adanya pertanggungjawaban secara korporasi dari PT Bank Mandiri Taspen.
Gelombang protes melalui pemasangan spanduk ini juga mulai memunculkan empati masyarakat.
Sejumlah warga mengaku prihatin melihat para pensiunan yang telah mengabdi puluhan tahun kepada negara harus memperjuangkan hak mereka di usia senja.
Apabila tidak ada respons konkret dari pihak manajemen bank maupun otoritas terkait, aksi simbolik tersebut diperkirakan dapat berkembang menjadi mobilisasi massa pensiunan dalam skala besar di Banyumas.