
SERAYUNEWS– Petani palawija di Desa Sembawa dan Asinan Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara resah. Pasalnya, akibat erosi yang sangat parah dari sungai ‘Dadap’ yang melintasi kedua desa tersebut.
Adi, ketua kelompok tani setempat mengatakan, erosi tanah yang dirasa makin parah mulai terlihat diawal tahun 2021. “Lahan pertanian mulai dari areal persawahan, palawija, salak,” katanya.
Menurut Adi, selain merusak lahan pertanian, erosi atau tergerusnya tanah akibat aliran sungai juga mengakibatkan pemukiman warga di Dusun I terancam. Pada rumah-rumah warga di areal tersebut sudah terdapat keretakan pada dinding rumah dan setiap tahun selalu bertambah lebar.
“Kerusakan sudah sangat terlihat. Banyak tanaman kayu keras yang berada di dekat sungai ‘Dadap’ sudah pada roboh termasuk lahan milik warga disepanjang sungai tersebut juga sudah berkurang karena erosi,” katanya.
Barno, warga Desa Sembawa mengatakan, kerusakan akibat erosi sungai Dadap sudah sangat mendesak untuk segera ditangani mengingat banyak warga kehilangan lahan pertaniannya akibat tergerus aliran sungai. “Saat kemarau saja tanah melorot apalagi musim hujan. Kami sagat berharap agar pemerintah dapat segera melakukan langkah untuk mengatasi eros tersebut,” katanya.
Kades Sembawa, Yoga mengatakan, gerakan tanah akibat erosi tidak hanya berada di sungai Dadap saja melainkan juga terjadi di Dusun Simpar yang berada di atas sunga Brukah. “Lahan persawahan juga sudah sangat terancam ambrol yang tentu juga mengancam pemukiman di bawahnya. Sungai Brukah dan Dadap sangat parah tingkat erosinya karena aliran airnya sangat deras terutama dari sungai Brukah,” katanya.
Menurut Yoga, selain dikeluhkan warga Desa Sembawa, sejumlah warga Desa Asinan yang berbatasan langsung dengan Sembawa juga mengeluhkan gerakan tanah yang terus-menerus akibat erosi sungai Dadap.
Yoga berharap agar Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara dapat segera melakukan langkah untuk menyelamatkan keberadaan lahan pertanian warga baik sawah maupun palawija.