
SERAYUNEWS – DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Cilacap menggelar Musabaqah Hifdzil Qur’an dalam rangkaian program Syiar Ramadan, Ahad (22/2/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kantor DPD PKS Cilacap itu diikuti 35 peserta dari berbagai jenjang keanggotaan.
Lomba tahfidz ini tak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari pembinaan spiritual kader selama bulan suci. Para peserta tampak serius melantunkan hafalan di hadapan dewan juri, mulai dari juz pendek hingga surat-surat panjang.
Ketua DPD PKS Kabupaten Cilacap, Sutrisno, mengatakan Musabaqah Hifdzil Qur’an digelar sebagai upaya membumikan Al-Qur’an di lingkungan kader partai sekaligus meningkatkan kapasitas hafalan.
“Tujuan kegiatan ini adalah menjaga jiwa-jiwa Al-Qur’an serta meningkatkan kapasitas anggota dalam menghafal Al-Qur’an. Pemenang nantinya akan menjadi delegasi Kabupaten Cilacap untuk mengikuti lomba tingkat provinsi di Semarang,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana seleksi untuk menjaring kader terbaik yang akan mewakili Cilacap di ajang serupa tingkat Jawa Tengah.
Panitia membagi perlombaan dalam empat jenjang sesuai tingkat keanggotaan. Untuk Anggota Muda dan Pratama, peserta diuji hafalan Juz 30. Anggota Madya mengikuti kategori hafalan Juz 29, sementara Anggota Dewasa diuji pada hafalan Juz 28.
Adapun kategori tertinggi, yakni Anggota Utama, melombakan hafalan Surat Al-Anfal dan At-Taubah.
Pembagian kategori ini dimaksudkan agar kompetisi berlangsung proporsional sesuai kapasitas dan jenjang pembinaan masing-masing peserta.
Selain sebagai kompetisi, Musabaqah Hifdzil Qur’an juga menjadi momentum mempererat ukhuwah di antara kader. Interaksi yang terbangun selama kegiatan dinilai mampu menumbuhkan semangat kebersamaan dan memperkuat nilai-nilai keislaman dalam aktivitas politik.
Melalui program Syiar Ramadan ini, DPD PKS Kabupaten Cilacap menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan yang membangun karakter serta mendorong generasi yang semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi tradisi pembinaan berkelanjutan yang berdampak langsung pada kualitas pribadi dan sosial kader di tengah masyarakat.