Rabu, 1 Desember 2021

Taman Kota Usman Janatin Purbalingga, Hidup Segan Mati Tak Mau

Ruko yang ada di kawasan Taman Kota Usman Janatin Purbalingga tutup. Kondisi fasilitas wisata dibawah naungan Perusda Owabong tersebut ibarat hidup segan mati tak mau. (Joko Santoso)

Taman Kota Usman Janatin yang merupakan salah satu lokasi wisata di Kabupaten Purbalingga yang kondisinya mengenaskan. Pasalnya sarana yang dibangun di eks lokasi Pasar Purbalingga dan diresmikan tahun 2010 tersebut kini seperti hidup segan mati tak mau.


Purbalingga, serayunews.com

Pantauan serayunews.com, Jumat (26/11/2021), kondisi Taman Kota Usman Janatin sepi dan tidak terurus. Sejumlah rumah toko (ruko) yang disewakan di kawasan itu tutup. Menurut keterangan sejumlah penyewa ruko memilih tidak melanjutkan usahanya karena sepi.

“Mungkin ini dampak pandemi juga yang membuat kawasan Usman Janatin sepi,” kata Galuh (35), salah seorang pemilik usaha rumah makan di kawasan itu yang memilih tutup.

Pengelolaan Taman Kota yang namanya diambil dari nama pahlawan Dwikora dari Kabupaten Purbalingga sejak tahun 2019 berada di bawah Owabong. Perusda milik Pemkab Purbalingga tersebut menaungi sejumlah objek wisata. Selain Owabong ada juga Goa Lawa, Sanggaluri Park dan Museum Tempat Lahir (MTL) Soedirman.

Awalnya Taman Kota Usman Janatin akan dikembangkan menjadi fasilitas umum dengan adanya taman bermain, pusat bisnis, dan juga pusat kebugaran dan juga panggung hiburan. Namun dalam perkembangannya hingga kini, belum ada formula yang tepat untuk membuatnya ramai dan menjadi salah satu daya tarik wisata maupun bisnis.

“Kami sedang merumuskan dan merencanakan formula apa yang tepat untuk pengembangan Taman Kota Usman Janatin. Sejumlah gagasan mulai ada, di antaranya menjadikan hall yang ada di sana menjadi hall multifungsi. Seperti untuk pertemuan atau pernikahan. Kami akan jadikan juga kawasan ini sebagai bisnis center,” kata Plt Direktur Perusda Owabong, Eko Susilo.

Dia menyampaikan, untuk merealisasikan itu semua perlu perencanaan yang matang. Sebelumnya berbagai konsep pengembangan kawasan tersebut gagal, karena menurutnya dilakukan tanpa persiapan yang matang.

“Saya tidak mau buru-buru. Segala sesuatunya harus terencana dengan baik dan ada analisa yang tepat,” kata Eko yang menjabat Plt Direktur Owabong sejak 6 April 2021.

Dia beralasan saat ini dia bersama jajaran manajemen Owabong sedang fokus pada pemulihan kondisi keuangan Owabong yang terdampak pandemi. Menurutnya situasi saat ini tidak seperti empat tahun sebelumnya. Owabong seperti destinasi wisata yang lain terdampak pandemi karena hampir dua tahun tak beroperasi.

“Kami juga membutuhkan masukan dari berbagai pihak termasuk untuk pengembangan Taman Kota Usman Janatin,” imbuhnya.

Berita Terkait

Berita Terkini