Rabu, 20 Oktober 2021

Tanggul Pantai Kritis, TPI Lengkong  Cilacap Tutup dan Permukiman Warga Terancam Banjir

Kondisi tanggul Pantai Lengkong yang jebol dihantam ombak. (Ulul)

Gelombang tinggi yang terjadi akhir-akhir ini mengakibatkan sejumlah tanggul di Pantai Lengkong Kelurahan Mertasinga Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap kritis dan mengancam permukiman penduduk. Bahkan nelayan pun pindah ke TPI lain karena perahu tak bisa bersandar.


Cilacap Utara, serayunews.com

Pembantu Umum Ketua Kelompok Nelayan Lengkong Tasmiyardi mengatakan saat ini tidak ada aktivitas di TPI Lengkong, karena nelayan tidak bisa bersandar di Pantai Lengkong disebabkan gelombang tinggi dan abrasi yang semakin parah.

“Sudah 3 tahun tidak beroperasi padahal sebelumnya nilai pendapatan TPI Lengkong bisa mencapai sekitar Rp 5 miliar hingga Rp 6 miliar per tahun” ujanya, Rabu (13/10).

Nelayan menyebut jika abrasi pantai sudah menjorok ke darat sekitar 100 meter, padahal dahulu ratusan perahu bisa bersandar di Pantai Lengkong. Kini mereka takut bersandar karena selain ombak yang besar, tempat sandar pun tidak ada akibat terdampak abrasi tersebut.

Abrasi Tanggul Pantai Lengkong Cilacap. (Ulul)

“Akhirnya nelayan bersandar pindah ke TPI Menganti Rawajarit dan menjual hasil tangkapan disana. Harapannya dibuat break water agar nelayan bisa kembali sandar di Pantai Lengkong,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KUD Mino Saroyo Untung Jayanto menyampaikan, produksi ikan di TPI Lengkong bisa dibilang merosot. Menurutnya kondisi paling terparah tahun ini, karena dampak abrasi tersebut tidak ada aktivitas produksi ikan yang masuk di TPI Lengkong.

“Abrasi merugikan nelayan dan mengancam keselamatan nelayan. Produksi yang masuk di TPI Lengkong hanya 5-10% dari produksi sebelumnya, sebelumnya bisa mencapai Rp 5 miliar/tahun, sekarang paling sekitar Rp 500 juta,” ujarnya.

Selain itu, Untung juga menyebut bahwa selain dari faktor alam, diduga dampak abrasi akibat dari pembangunan dermaga jetty di PLTU yang  menyebabkan arus laut bergeser ke Pantai Lengkong dan Kemiren, sedangkan lokasi yang berada dekat sebelah jetty bertambah daratannya.

“Prediksi saya salah satu penyebabnya dari PLTU, karena bisa dilihat wilayah bibir di Rawajarit bertambah sekitar 2 kilo meter dari bibir pantai sebelumnya, tapi yang tergerus adalah di Wilayah Lengkong dan Kemiren, maka  saya berharap kepada pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah, untuk bisa melihat kenyataan yang dirasakan nelayan lengkong dan kemiren,” ujarnya.

Selain merugikan nelayan, dampak abrasi juga mengancam permukiman penduduk yang berjarak hanya puluhan meter dari tanggul pantai. Sebab sejumlah tanggul yang mulanya di kelilingi tambak udang sudah mulai habis diterjang ombak. Berdasar laporan petani tambak, sedikitnya sudah ada sekitar 25 kolam tambak udang yang jebol dan rata akibat terjangan gelombang laut. Air laut juga menggenangi area persawahan milik warga setempat.

Air laut menggenangi lingkungan sekitar Rumah warga yang tinggal dekat dengan tanggul Pantai Lengkong. (Ulul)

Bahkan, gelombang tingggi sudah menjebol tanggul dengan panjang sekitar 500 meter dan mengkikis sepanjang sekitar 3 kilo meter, yakni sepanjang Pantai Lengkong dan Pantai Kemiren

“Upaya dari nelayan, saya bersama DPC HNSI waktu itu saya menyurati Menteri Kelautan Bu Susi, agar aktivitas nelayan Lengkong dan Kemiren bisa ke wilayah lain, karena abrasi itu terus mengkisis. Harapan kami jangan dibuat tanggul tetapi dibuatkan break water penahan ombak,” ujarnya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penanggulangan dampak abrasi yang terjadi di wilayah tersebut. Kabar beredar di nelayan, rencananya akan dibangun tanggul di titik abarasi tersebut.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini