
SERAYUNEWS-Sebuah teknologi ‘Cairan Imun’ yang merupakan tekhnologi pertanian ramah lingkungan mulai dikembangkan di Banjarnegara. Tekhnologi yang dibawa oleh Business Council Indonesia-Rusia, mulai diperkenalkan di Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Jumat (23/1/2026).
‘Cairan Imun’ asal Rusia ini digunakan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memulihkan kualitas tanah yang jenuh akibat pupuk kimia.
Perwakilan dari Business Council Indonesia-Rusia, Arry Widya Sudirman mengatakan, kunjungan yang dilakukan di Desa Purwasaba ini merupakan satu langkah nyata dalam mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan, hal ini selaras dengan komitmen kerja sama antara Presiden Indonesia dan Rusia.
Berbeda dengan pupuk organik pada umumnya, teknologi Cairan Imun yang dibawa ini menggunakan bahan alami yang hanya ditemukan di satu titik di dunia.
“Imun yang kami gunakan ini hanya ada di satu daerah bernama Siberia. Tidak ada di negara lain, makanya kami impor langsung dari sana,” ujar Arry Widya.
Menariknya, teknologi ini tidak hanya menyasar tanaman pangan seperti padi, tetapi juga hortikultura, termasuk kentang hingga kopi. Fokus utamanya adalah beralih dari penggunaan pupuk kimia ke sistem bio (organik) yang didukung riset mendalam.
“Kami didukung oleh tiga profesor di Rusia. Jika ada kendala lahan atau serangan hama, kami akan kirim sampel ke Rusia untuk diteliti di sana, baru kemudian diberikan solusi teknologinya,” katanya.
Sebelum menginjakkan kaki di Banjarnegara, tim yang terdiri dari Arry Widya Sudirman, Rio Boun, dan tenaga ahli asal Rusia, Mr. Giliev Illya, telah lebih dulu melakukan uji coba di Purwokerto selama enam bulan terakhir.
Hasilnya sangat signifikan. Padi yang menggunakan cairan imun tersebut menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih unggul dibandingkan padi konvensional. “Hasilnya jauh lebih baik dan jauh lebih besar, serta kualitasnya sangat bagus. Padahal ini sepenuhnya non-kimia,” katanya.
Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau Hoho, menyambut antusias kehadiran teknologi ini. Sebagai bentuk komitmen, ia menyiapkan lahan pribadinya seluas kurang lebih 1,25 hektar untuk dijadikan demplot.
“Petani kita sudah lama bergantung pada kimia sejak zaman nenek moyang, sehingga tanah banyak yang rusak. Jika teknologi Rusia ini bisa menetralkan sisa kimia dan meningkatkan hasil panen hingga sepertiga dari biasanya, ini adalah istimewa,” katanya.
Saat ini, rata-rata produksi padi di wilayahnya mencapai 6 ton per hektare. Jika teknologi ini berhasil, diharapkan produksi bisa melonjak hingga 8 ton per hektare.
Meski baru tahap penjajakan, tim dari Rusia ini juga berencana melakukan ekspansi ke Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi pada Februari mendatang. Arry menekankan bahwa pihaknya lebih memilih cara “senyap” dengan pembuktian hasil di lapangan terlebih dahulu daripada seremoni besar di awal.
“Kami tunjukkan hasilnya dulu. Begitu panen dan hasilnya terbukti, baru kita duduk bersama pemerintah daerah untuk membicarakan kerja sama yang lebih luas,” katanya.