
SERAYUNEWS- Teks khutbah Jumat terakhir Ramadhan 2026 menjadi salah satu tema yang banyak dicari umat Islam menjelang berakhirnya bulan suci.
Khutbah ini biasanya berisi ajakan untuk memaksimalkan sepuluh hari terakhir Ramadhan, memperbanyak sedekah, menunaikan zakat fitrah, serta menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadhan berakhir.
Pada Jumat terakhir bulan Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, para khatib umumnya mengingatkan jamaah bahwa Ramadhan hampir meninggalkan umat Islam.
Karena itu, sisa hari yang ada harus dimanfaatkan dengan memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri. Selain itu, khutbah juga menjadi momentum untuk mengajak umat Islam berburu malam Lailatul Qadar, melakukan muhasabah, serta menutup Ramadhan dengan amal terbaik.
Jumat terakhir Ramadhan memiliki makna yang sangat istimewa bagi umat Islam. Momen ini menjadi pengingat bahwa bulan penuh ampunan dan keberkahan segera berakhir.
Bagi sebagian orang, Ramadhan terasa begitu cepat berlalu. Karena itu, khutbah Jumat terakhir biasanya berisi pesan mendalam agar umat Islam:
Khutbah ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadhan bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah selama sebulan, tetapi juga bagaimana menjaga istiqamah setelahnya.
Berikut contoh garis besar teks khutbah Jumat terakhir Ramadhan yang dapat dijadikan referensi bagi para khatib. Melansir NU Online, berikut teks khutbah berjudul: “Refleksi Pertengahan Bulan Ramadhan, Sudahkah Kita Memaksimalkannya?”
Teks khutbah tersebut ditulis oleh : Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Situbondo, kini mengabdi di Ponpes Manhalul Ma’arif Lombok Tengah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَوْسِمًا لِلْعِبَادَاتِ وَمَيْدَانًا لِلْخَيْرَاتِ، وَضَاعَفَ فِيهِ الْحَسَنَاتِ، وَغَفَرَ فِيهِ الزَّلَّاتِ، وَأَجْزَلَ فِيهِ الْعَطَايَا وَالْهِبَاتِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى جَزِيلِ فَضْلِهِ وَعَظِيمِ إِحْسَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْقَائِلُ فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: ﴿وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْقَائِلُ: “مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فقال تعالى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ.
Pada kesempatan yang mulia dan penuh berkah ini, mari kita bersama-sama berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Caranya dengan terus berupaya menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Bulan yang penuh keutamaan ini seharusnya menjadi momen bagi kita untuk memperbanyak amal saleh. Setiap waktu yang ada sebisa mungkin kita isi dengan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sehingga Ramadhan benar-benar menjadi waktu yang membawa kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.
Tak terasa, kini kita sudah berada di pertengahan bulan Ramadhan. Artinya, separuh bulan Ramadhan telah kita lewati bersama. Dalam momen yang penuh berkah ini, mari kita merenung sejenak mengenai prestasi apa yang berhasil kita torehkan selama separuh bulan Ramadhan yang telah berlalu.
Sebagai bahan renungan bersama, mari kita coba bertanya pada diri sendiri: sebenarnya sudah sejauh mana kita memanfaatkan bulan Ramadhan ini? Apakah puasa yang kita jalani sudah benar-benar kita maksimalkan, atau jangan-jangan kita hanya sekadar menahan lapar dan haus saja?
Coba kita lihat lagi ibadah kita. Apakah sudah ada peningkatan, baik dari segi kualitas maupun jumlahnya? Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan?
Atau mungkin tanpa kita sadari, hari-hari Ramadhan justru masih banyak dihabiskan untuk urusan dunia. Kita lebih sering menatap layar HP daripada membuka Al-Qur’an, lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada memperbanyak zikir.
Bahkan kadang kita lebih semangat berburu takjil dan ngabuburit, tetapi jarang meluangkan waktu untuk bermunajat dan memohon ampun kepada Allah. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi sebagai pengingat agar kita bisa memperbaiki diri dan memanfaatkan sisa waktu Ramadhan dengan lebih baik.
Ada sebuah hadits yang sangat layak kita renungkan bersama sebagai motivasi untuk terus mencari keberkahan di bulan Ramadhan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad.
Dikisahkan dari sahabat Jabir bin Abdillah RA. Suatu hari, ketika Rasulullah SAW naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah, pada setiap anak tangga beliau tiba-tiba mengucapkan, “Amin.”
Para sahabat yang melihat kejadian itu merasa heran. Setelah khutbah selesai, mereka pun bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal tersebut. Lalu Nabi menjelaskan kepada para sahabat dan bersabda:
لَمَّا رَقِيتُ الدَّرَجَةَ الْأُولَى جَاءَنِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ
Artinya: “Ketika aku naik tangga pertama, Malaikat Jibril as. datang kepadaku kemudian berkata, “Celakalah seorang hamba yang menjumpai bulan Ramadhan, namun ketika Ramadhan telah berlalu dia tidak mendapatkan ampunan”.
Kemudian aku berkata, “Amin”. Kemudian Jibril as. berkata, “Celakalah seorang hamba yang masih mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya namun hal tersebut tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. Kemudian aku menjawab, “Amin”.
Kemudian Jibril as. berkata, “Celakalah seorang hamba yang apabila namamu disebutkan di sisinya tetapi ia tidak bershalawat kepadamu”. Kemudian aku menjawab, “Aamiin”. (Imam Bukhari).
Hadits di atas menjadi peringatan bagi kita, terutama bagi orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan emas di bulan Ramadhan. Padahal, di bulan inilah Allah SWT memberikan banyak keistimewaan yang tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya.
Di bulan Ramadhan, pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan rahmat serta ampunan Allah SWT terbuka sangat luas bagi siapa saja yang ingin meraihnya.
Terlebih lagi sekarang kita telah memasuki fase kedua bulan Ramadhan, yaitu sepuluh hari kedua yang dikenal sebagai waktu penuh ampunan. Pada masa inilah kesempatan untuk memohon ampun kepada Allah SWT sangat terbuka lebar. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (HR al-Khuzaimah dan al-Baihaqi).
Oleh karenanya mari, kita evaluasi diri kita masing-masing apakah kita sudah memaksimalkan diri untuk mencari keberkahan dan ampunan Allah selama setengah bulan berlalu. Jika ia, maka kita harus istiqamah dan lebih giat lagi untuk beramal.
Namun jika kita mendapati diri kita dalam keadaan lalai, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena jangan sampai ketika nanti Ramadhan telah berlalu kita tidak mendapatkan ampunan dan fadilah-fadilah yang ada di dalamnya.
Demikianlah khutbah singkat yang dapat kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk bisa memaksimalkan diri menggapai keberkahan-keberkahan yang ada pada bulan Ramadhan ini. Amin.. amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ،أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ،وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِي الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبَنَا غِلَّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Jumat terakhir Ramadhan menjadi momentum penting untuk memperbaiki diri sebelum bulan suci benar-benar berakhir. Melalui khutbah Jumat terakhir Ramadhan 2026, para khatib mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang masih tersisa.
Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang hanya datang sekali dalam setahun. Karena itu, menutupnya dengan ibadah terbaik merupakan bentuk rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah SWT.
Semoga seluruh amal ibadah yang dilakukan selama Ramadhan diterima oleh Allah dan menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih bertakwa.