
SERAYUNEWS – Suasana hening menyelimuti kawasan Patung Jenderal Soedirman, Rabu (1/4/2026) siang. Di depan Gedung Rektorat Universitas Jenderal Soedirman, seorang aktivis bernama Aji Nugroho menggelar aksi tunggal bertajuk “Save Unsoed”.
Aksi yang berlangsung sekitar 30 menit ini dilakukan dengan cara tak biasa. Aji memilih membungkam mulutnya menggunakan lakban hitam sebagai simbol protes terhadap kondisi kampus yang dinilai tengah mengalami krisis integritas.
Dengan membentangkan poster bertuliskan “Save Unsoed”, Aji Nugroho menyampaikan kritik melalui aksi diam. Gestur tersebut menjadi simbol dugaan pembungkaman aspirasi serta minimnya transparansi birokrasi kampus.
Aksi ini merefleksikan keresahan terhadap sejumlah persoalan internal yang dinilai belum tertangani secara tuntas oleh pihak universitas.
Dalam pernyataan tertulisnya, Aji menyoroti beberapa isu krusial di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman, di antaranya:
Ia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang aman dan berkeadilan, bukan tempat yang membiarkan penyalahgunaan relasi kuasa.
Aksi “Save Unsoed” ini juga membawa tiga tuntutan utama:
Aksi bisu tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap respons birokrasi yang dinilai lamban dan cenderung defensif.
Aksi ini muncul di tengah momentum berakhirnya masa jabatan Rektor Akhmad Sodiq pada 2026.
Isu pergantian kepemimpinan menjadi perhatian, dengan harapan munculnya figur baru yang mampu melakukan reformasi menyeluruh.
Meski dilakukan seorang diri, aksi Aji Nugroho dinilai berhasil menyuarakan aspirasi sebagian civitas akademika yang menginginkan perubahan nyata di tubuh kampus.