Sabtu, 31 Juli 2021

Toa Musala dan Zaman yang Berubah

ilustrasi. Gambar oleh OpenIcons dari Pixabay

Ketika zaman berubah, ketika itu pula memungkinkan adanya perubahan cara memandang hidup. Aku merasa bahwa dahulu orang cukup bisa menerima ketika “kenyamanannya” terusik untuk kepentingan beberapa orang lain.

Mungkin, karena diskursus tentang hak pribadi di masa lalu tidak mengemuka. Namun, ketika zaman berubah, ada kemungkinan perubahan cara pikir.

Kini, atau setidaknya belakangan ini yang aku rasakan, diskursus tentang hak pribadi mengemuka luar biasa. Contohnya adalah hak untuk berbicara, hak untuk mendapatkan kenyamanan dan ketenangan.

Mungkin orang-orang berpikir bahwa hak pribadi itu sangat dibutuhkan karena dunia belakangan ini bising dan riuh. Keluar rumah bising dengan suara kendaraan, riuh dengan debu. Nonton dunia maya riuh dengan pertengkaran dan candaan yang merendahkan.

Kini, keriuhan dan kebisingan itu bercampur dengan pandemi. Bayangkan saja, bagaimana tingkat stres orang di masa kini? Kemungkinan memang stres luar biasa. Kemungkinan seperti itu.

Ini potret zaman modern yang sumpek. Nah, ketika sumpek seperti itu, orang akan sangat mendamba kenyamanan, ketenangan, khususnya ketika sudah berada di dalam rumah.

Kalau sudah di rumah, orang ingin istirahat, bertemu dengan keluarga, bercanda dengan anak. Bahkan, atas nama kenyamanan dan ketenangan, tembok rumah ditinggikan agar tak ada orang yang mengganggu atau orang yang terlihat mencurigakan.

Ketika orang sudah di rumah dengan berlipat kelelahan, mereka ingin istirahat. Imbasnya, kalau untuk kumpulan RT malam hari saja, ada yang malas. Karena memang ingin memanjakan diri setelah ditempa keriuhan dan kebisingan seharian. Zaman memang telah berubah.

*

Aku ingin mengungkap cerita nyata di satu tempat. Di tempat itu, musala sangat ramai di tiap malam Jumat. Ada kebiasaan yang berpaut dengan keagamaan dan ke-Islam-an. Keramaian itu selalu disiarkan melalui pengeras suara. Orang sekampung dengar semua.

Sejak dulu kala, tak pernah ada ceritanya orang kampung protes. Tak ada. Dari dulu, ritual malam Jumat itu dianggap sebagai hal biasa, seperti biasanya suara kereta melaju di waktu-waktu tertentu.

Jadi memang tak ada masalah. Namun, saat ada orang baru dengan budaya baru, ternyata suara dari pengeras suara alias toa di malam Jumat itu jadi masalah. Salah satu anaknya protes karena tak bisa konsentrasi belajar. Kenyamanan dan ketenangan yang diinginkan untuk belajar jadi terganggu.

Cerita ini mirip mirip dengan cerita di tempat lain yang mempertentangkan suara toa dari masjid atau musala dengan privasi seseorang.

Belakangan kembali menjadi ramai karena seorang pesohor memprotes cara orang membangunkan sahur dengan pengeras suara.

Lalu bagaimana? Menurutku jika ada persoalan seperti ini, bicarakan saja dengan kepala dingin, dengan tenang. Pembicaraan hanya pada orang yang “berlawanan” di daerah itu, beserta penengahnya. Bicarakan di tempat yang netral.

Cari jalan keluarnya. Siapa tahu setelah kedua pihak bertemu di tempat netral, kedua pihak bisa saling memahami. Siapa tahu kedua pihak menemukan jalan tengah.

Siapa tahu antara kedua pihak ada yang bisa menerima dan mengalah. Siapa tahu? Jika pun tak juga bisa menemukan jalan keluar, maka otoritas di tempat itulah yang diberi kewenangan untuk memutuskan sebijak mungkin.

Persoalan seperti ini tidak perlu diumbar sampai ke mana-mana apalagi di media sosial. Mengapa? Karena ini adalah persoalan sensitif.

Jika kau berada di pihak yang pro toa alias alat pengeras suara, maka kau bisa dituding tak menghormati privasi orang lain. Jika kau berada pada pihak yang kontra toa, maka kau bisa dicap sebagai pelawan agama.

Apalagi jika dua kubu itu kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat. Muncullah dua kubu yang sama kerasnya. Cerita pro kontra toa hanya ada di daerah X, karena diumbar sedemikian rupa bisa menjalar ke daerah lainnya. Mereka yang tak tahu apa-apa pun bisa kena imbasnya. Tak baik jadinya. Menurutku, jika persoalan bisa diselesaikan oleh kita-kita di lingkungan terkecil, tak perlu sampai diumbar. Apalagi diumbar karena ingin mendapatkan pengakuan, sebagai orang yang eksis di dunia maya.

Persoalan yang bisa diselesaikan kita-kita juga tak perlu meminta bantuan orang dari luar daerah, wakil rakyat, politisi, atau pejabat. Tak perlu.

Berita Terkait

Berita Terkini